Archive for July, 2005

Kepada Peminta-minta

Baik, baik aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku

Jangan lagi kau bercerita
Sudah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari luka
Sambil  berjalan kau usap juga

Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau datang
Sembarang kau merebah

Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku di bumi keras
Di bibir ku terasa pedas
Mengalun di telingaku

Baik, baik aku akan menghadap Dia….

[Ada yang tau ini puisinya siapa?]

Melampaui Ketakutan Untuk Menjadi Gila

Orang yang schizo….
Menciptakan diri sendiri sebagai manusia bebas, tidak bertanggung jawab, menyendiri, dan gembira. Serta pada akhirnya dapat mengatakan dan melakukan sesuatu atas namanya sendiri, tanpa harus minta izin; hasrat yang tidak membutuhkan apapun, aliran perubahan yang mengatasi pelbagai hambatan dan kode, nama yang tidak lagi menandakan ego apa pun.
Ia telah melampaui ketakutan untuk menjadi gila….

[Deleuze & Guattari]

+ So, what does it mean anyway Yo?

= I don’t know. I just write it down.

Maybe…. it just the wishes inside of me. 
That I can not compare with any other feeling. 
Maybe….

Ya, maybe…. you’re gonnabe the one that saves me….
And after all…..
You’re my wonderwall….. (Pis Yo! Hehehehe)

Chicken Run: Dorongan Semangat dari Para Ayam

Kita tidak akan pernah mencapai surga dengan hanya diam [Fowler-Chicken Run]

Pernah nonton Chicken Run? Pilem lama sih. Tapi tetep punya makna yang
dalem. That’s really a great movie, IMHO. Full of motivation and how to
reach our dream lah. Settingnya di peternakan ayam. Dari judulnya pasti
udah bisa nebak donk. Yap. Bener banget. It’s about running away.
Tentang usaha ayam2 lucu ini mengeluarkan diri mereka dari peternakan
ayamnya Tweedy family. Tersebutlah seorang, eh seekor ayam betina yg
namanya kalo diartiin ke bahasa indo adalah JAHE. Si Ginger ini
istilahnya adalah orang kunci, eh salah lagi, ayam kunci maksudnya yang
amat sangat bersemangat membuat rencana melarikan diri. En, dia juga
yang selalu dikurung sama peternaknya, tiap kali gagal melarikan diri.
Tapi sodara2, berbagai tantangan dan cobaan yang dihadapi sama si
Ginger, dia nggak putus asa. Suatu ketika teman2 nya pesimis mereka
bisa lari dari situ dan memperoleh kebebasan mereka. Salah satu ayam
tergemuk di peternakan (saya lupa namanya. It’s Bunty or something like that), bahkan bilang gini ke
Ginger: "Peluang kita untuk lari dari tempat ini adalah satu banding
sejuta!!!" Tapi bukannya menyerah dan patah semangat, Ginger malah
bilang, "Kalo gitu, kita masih punya kesempatan!!!" Cool, huh? Keren
banget kalo kata saya mah. Semangatnya itu loh.

Yah, mungkin pilem ini memang sangat khayal sekali. Karena yang menjadi
sarana mereka keluar dari peternakan adalah pesawat ayam yang dirakit
oleh ayam2 sekalian dan di piloti oleh Fowler, sang tetua ayam yang
veteran angkatan udara Inggris itu (bukan sebagai pejuang, tapi jadi
maskotnya AU Inggris). But the point is, ayam2 ini mengajarkan semangat
pantang menyerah dan keinginan untuk terus mencoba. Biarpun
kesempatannya cuma satu banding sejuta!!! And after the hard works,
they did it. Mereka berhasil mewujudkan impian mereka yang hampir
mustahil, hidup di alam bebas, bahagia. So, how ’bout us? Masa kalah
ama ayam? Seperti kata Fowler, "Surga tidak akan pernah bisa kita capai
kalau kita hanya diam." Maka kita perlu bergerak. Berjalan selangkah
demi selangkah. Memang, dengan hanya berdiri saja jempol kita tidak
akan tersandung dan berdarah. Kalau kita mau berjalan, semakin banyak
kemungkinan tersandung, tapi juga semakin besar kemungkinan untuk maju.
Maka bergeraklah, kalau perlu BERLARI lah menggapai surga-Nya. Fly away my friends! Let’s Seize the Day!!!

Rumah Dunia

Kalau HMI-MPO Malang punya basecamp yang namanya Rumah Semesta, Gola Gong en Tias Tatanka punya Rumah Dunia. Rumah mereka yang mereka peruntukkan untuk anak-anak di lingkungan sekitar. Dengan kebun belakang tempat anak2 bermain dan mendengarkan dongeng dari buku2 yang dibacakan Tias. Dengan perpustakaan yang dibangun untuk menumbuhkan minat baca anak2 di sekitar tempat tinggal mereka. Dengan kasih sayang dan pengertian yang besar terhadap kebutuhan dan kepentingan anak2 itu.

Rumah Dunia benar2 adalah imaji saya yang telah diwujudkan oleh Gola Gong dan Tias Tatanka. Dan pada saatnya nanti, saya pun akan mewujudkan mimpi Rumah Dunia saya sendiri. Saya memimpikan sebuah rumah. Tak perlu besar, tapi cukup untuk menampung anak2 saya yang tidak sedikit itu (grin). Dengan halaman belakang yang dirimbuni pepohonan tempat mereka dan teman2 nantinya bermain bergelantungan. Tempat mereka mengenal alam lebih dekat. Mengawasi pertumbuhan tanaman hari demi hari. Dengan perpustakaan berisi buku2 cerita dan ensklopedi. Setiap sore nantinya perpustakaan itu akan ramai dengan jiwa2 muda yang bersemangat membolak-balik lembaran kertas. Bertanya mengapa begini mengapa begitu. Berdiskusi sendiri. Mencintai buku, dan mulai belajar menulis. Sekali sebulan kami akan berkemah di halaman belakang. Tidur di bawah naungan malam. Mengidentifikasi nama2 rasi bintang. Atau bahkan menamai rasi bintang “baru” yang kami temukan.

Itu mimpi saya yang saya tulis sementara ini. Mungkin lain kali, kita bisa berbagi mimpi lainnya. Bagaimana dengan mimpimu Saudaraku?

Seperti Pohon….

Seperti pohon…
Di pokok kita masih satu
Lantas kita berpisah di cabang
Ada yang ke kiri, ada yang ke kanan
Ada yang terus ke atas
Ada yang ke depan, ada yang ke belakang
Atau bilapun masih satu di cabang
Kita nanti akan berpisah juga di ranting
Ke atas, ke kiri, ke kanan, ke depan, ke belakang

Saat kita kecil dulu kita masih satu
Masih anak kecil
Lantas sedikit demi sedikit
Waktu bikin kita beda
Waktunya makin banyak, beda kita tambah banyak
Itulah kita….

[Jejak-jejak, Bubin Lantang]

Balada Pedagang Asongan

Kemarin
saya janjian dengan seorang teman buat jalan2 ke perhelatan besar nya
Muhammadiyah, Muktamar ke-45 yang berlokasi di kampus 3 UNMUH. Meskipun saya
nggak terlalu enjoy berada di tengah keramaian, kali ini saya ingin juga
merasakan aura keramaian yang pada malam pembukaannya Cuma bisa saya liat di
TV. Selain itu saya pengen mengunjungi satu stand en nyari buku yang udah lama
saya pengin baca. Yu know, pembukaannya bener2 rame. Selain peserta ada juga
yang namanya penggembira. Dan kayaknya lebih banyak penggembiranya dari pada
peserta Muktamar sendiri. Saya agak heran dengan semangat orang2 ini dalam
Muktamar. Bayangpun, dari Palembang aja ada 4 bis yang isinya penggembira
semua. Dari kalimantan, Sulawesi, dan daerah2 di luar Malang yang membikin saya
takjub karenanya. Well, mungkin itu salah satu bukti dari kecintaan mereka
terhadap Islam dan keinginan agar Islam jaya melalui syiar dalam Muktamar itu
kali ya?

Anyway,
temen saya dateng pas jam 9 dan saya bersukur masih ada orang Islam yang bisa
menjaga waktu dan menepati janji seperti ini. Kami pun bertolak dan nggak
nyampe dua puluh menit sudah sampai di UNMUH yang dari gerbangnya saja sudah
terlihat pedagang asongan yang menjajakan beragam dagangannya. Mayoritas
Muhammadiyah minded (if u know what I mean). Ada tas kulit dengan logo
Muhammadiyah, ada kerajinan tangan, mainan anak-anak, dan sembarang kalir
(macem2, istilahnya or Jawa). Awalnya, kami pengin liat tabligh akbar yg kata
jadual sih pelaksanaannya pagi itu, akhirnya berbekal inpormasi dari org2 di
UNMUH, kami menuju DOM tempat acara diselenggarakan. Begitu sampe, rada bingung
juga. Eh ada Pak Din Syamsudin. Hampir saya lari ke arah bliaw untuk minta
tanda tangan en poto bareng (hehehehe, nggak banget deh), terus kami sadar
kayaknya kami salah masuk. Setelah tanya sana sini ternyata bener banget
sodara, acara nya ternyata bukan di situ tapi di kampus 2. Kecele nih yee….. Ya
udah deh, kami langsung aja ke arena bazaar. Karena pagi, jadi belum terlalu
rame. Biasanya kalo ada acara gede gini ramenya sore en malem. Dan biasanya
lagi, yang dateng adalah satu keluarga dari bapak, ibu, beserta lima orang
anaknya. Acara beginian emang jadi ajang rekreasi keluarga kali ya. Saya jadi
pengen ketawa aja. Tapi saya nggak mau deh ngajak anak2 saya ntar rekreasi di
tempat beginian. Enakan ke gunung atau laut atau liat aer terjun. Iya nggak?
Rekreasi kan biasanya buat ngilangin stress, lah ini malah tambah stress liat
org2 banyak banget betumpuk2 gini. Selaen itu, saya nggak mau ngajarin anak2
saya konsumtif.

Eh,
back to the topic. Jadi saya naek ke bazaar atas. Liat-liat stand nya. Ada
Muhammadiyah Lampung! Ihik, liat kaen tapis jadi inget sambel seruit. Jadi
pengen pulang. Jadi laper…. Trus kami jalan2 lagi keliling2. Ada stand yang
saya cari. Tapi katanya buku yang saya cari nggak ada tuh. Muter aja deh. Setelah
satu putaran, kami keluar. Mau muter lagi? Nggak deh, mending liat bazaar bawah
aja. Di jalan menuju bazar bawah, lebih banyak lagi pedagangnya. Mereka ngemper
gitu di pinggir jalan. Segala macem dijual. Ada maenan anak2 yg bentuknya ikan
lele gitu. Lucu deh. Ada yg jual minyak kayu putih, sendal, ada yang jual
kalajengking kering buat obat panu kadas kurap (wow!), wah pokoknya betaburan
(bener2 betaburan karna mereka jualannya digelar gitu). Kami pun masuk ke arena
bazaar tanpa menghiraukan tawaran dan rayuan para pedagang asongan itu. Cukup
sekali puteran aja di dalem. Ternyata rame juga. Jadi pusing2 campur bingung.
Waktu kami keluar dari arena bazaar, saya liat petugas ketertiban lagi pegang
toa en ngumumin ke pedagang2 asong: "Bapak2, Ibu2, harap membereskan
dagangannya. Ini bukan tempat jualan! Kami sudah menyediakan tempat di arena
bazaar. Ini mengganggu ketertiban dan kerapihan. Jadi, Bapak2, Ibu2 harap segera
pindah dari sini!" gitu kira2 omonganya si Bapak petugas. Trus ada juga
petugas yang maksa2 pedagang buat cepet2 beresin dagangannya. Ya ampun, kasian
banget. Padahal mereka tuh Cuma jualan apa sih. Untungnya juga paling gak
seberapa2 amat. Gitu aja udah diusirin. Iya sih emang ada arena bazaar, tapi
kan BAYAR Pak!!!!! Padahal mereka nggak ngganggu kok. Ya paling Cuma nawarin
barang2 nya aja. Mereka kan juga berhak cari penghidupan disini, di bumi Allah
ini. Kalo udah gini, saya bener2 ngerasa nggak berdaya. Cuma bisa ngedongkol
dalem hati. Selemah2nya iman kan? Aduhhhhhh… ampuni hamba-Mu ya Allah….
Seandainya saja, khalifah Umar masih hidup pasti nggak begini keadaannya. SBY,
mau nggak ya belajar dari Umar? SBY kira2 pernah baca shiroh nggak ya? SBY, BBM
dinaekkin katanya ada kompensasi subsidi pendidikan, beneran bakal terlaksana
nggak ya? Pak SBY…. Kenapa kemaren nggak jadi ke UIN???? Katanya mau lebih lama
ngobrol ama petani2 ya Pak? Katanya lagi pemerintah bakal terus bantu petani,
tapi subsidi nya di bidang kesehatan gitu. Beneran kan Pak? Nggak sekedar janji
kan Pak? Nggak kayak lagu jaman baheula: "Tinggi gunung sribu janji. Lain
di bibir lain di hati…." kan Pak?

Binun
ya bacanya? He ‘eh. Nggak pokus amat ya?

5
Juli 2005

Hidup Kita Ini….

Usia dunia ini sudah sangat
tua. Seiring dengan itu, semakin berkembang perilaku dan keinginan manusia
sebagai pemeran utama dalam teater ini. Beragam hal dilakukan oleh manusia.
Dari mencipta sampai hanya diam di beranda rumah. Ada beberapa hal yang tidak
akan lekang dimakan rakusnya masa, yaitu kebaikan dan kejahatan. Dua kutub
berlawananan arah ini senantiasa berkejaran dan menemukan aktor dan aktris yang
tepat untuk memainkan peranan mereka. Kisah-kisah klasik selalu mengunggulkan kebaikan
yang pasti menang melawan kejahatan. Orang baik, mutlak menguasai dunia. Tapi
itu dalam fiksi dan cerita. Kenyataannya, kejahatan saat ini melibas dunia.
Mulai dari pencopet kelas teri sampai koruptor kelas paus yang mengeruk uang
negara bermilyar-milyar rupiah. Ada apa dengan kita? Apakah sudah hilang
keinginan untuk berbuat baik dalam nurani manusia?

 

Indonesia sendiri, yang
mayoritas penduduknya beragama ISLAM,
ternyata menduduki ranking lima besar dalam “perlombaan” korupsi sedunia.
Padahal tidak ada anjuran untuk korupsi dalam Islam. Yang ada malah ajaran
untuk selalu jujur, takwa, qona’ah, ikhlas dan tawakkal. Dan apabila seorang
Muslim terlanjur melakukan dosa, maka tobat adalah jalan untuk membersihkan
dirinya.

 

Rasulullah SAW bersabda: “Kebajikan
adalah budi pekerti yang baik, dan dosa itu adalah segala sesuatu yang
menggelisahkan perasaanmu dan yang engkau tidak suka bila dilihat orang lain”
.
(HR Muslim).

 

Islam adalah ajaran kemuliaan.
Allah telah menawarkan perniagaan kepada orang-orang beriman dimana Allah akan
”membeli” jiwa, raga dan harta mereka untuk dibayarkan dengan surga. Maka
pantaskah kita yang mengaku beriman, mengingkari perniagaan ini dengan berbuat
dosa, kejahatan dan merusak nama agama-Nya ?

Kebahagiaan adalah Udara

Ada seorang pemuda di tepian telaga. Ia tampak termenung. Matanya kosong, menatap hamparan air di depannya. Seluruh penjuru mata angin telah dilweatinya, namun tak satu titik pun yang membuatnya puas. Kekosongan makin senyap sampai ada suara yang menyapanya. Ada orang lain di sana.

"Sedang apa kau disini, Anak Muda?" tanya orang itu. Rupanya suara seorang kakek tua. "Apa yang kau risaukan?"

Anak muda itu menoleh. "Aku lelah Pak Tua. Telah berkilometer jarak yang ku tempuh untuk mencari kebahagiaan, namun tak juga kutemukan rasa itu dalam diriku. Aku telah berlari melewati gunung dan lembah, ta[I tak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalamdiriku. Ke manakah aku harus mencarinya? Bilakah kutemukan rasa itu?"

Kakek Tua mengambil tempat di samping pemuda itu. Ia mendengarkan keluhan pemuda itu dengan penuh perhatian. Dipandanginya wajah lelah si pemuda. Lalu ia berkata, "Di de[an sana ada taman. Jika kau ingin jawabannya, tangkaplah seekor kupu-kupu buatku."

Pemuda itu menatap kakek itu. Tidak percaya. Si kakek menganggukan kepalanya. "Ya…, tangkapkan seekor kupu-kupu untukku dengan tanganmu," kakek itu mengulang kalimatnya.

Perlahan pemuda itu bangkit. Ia menuju arah yang ditunjuk kakek tadi. Ke taman. Dan benar, ia menemukan taman itu. Taman yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga bermekaran. Tak heran banyak kupu-kupu berterbangan di sana.

Anak muda itu mulai bergerak. Mengendap-endap. Ditujunya sebuah sasaran. Peralahn. Hap! Luput. Segera dikejarnya lagi kupu-kupu itu. Ia tak mau kehilangan buruan. Sekali lagi tangannyamenyambar. Hap! Gagal.
Pemuda itu mulai berlari tak berarturan.menerjang ke sana ke sini. Merobek ilalang, menerjang perdu, mengejar kupu-kupu itu. Gerakannya semakin liar.

Sejam, dua jam. Belum ada tanda-tanda pemuda itu akan berhenti. Belum ada kupu-kupu tertangkap. Pemuda itu mulai kelelahan. Nafasnya memburu, dadanya bergreak naik-turun dengan cepat. Tiba-tiba ada teriakan, "Berhenti dulu, Ank Muda. Istirahatlah!" Rupanya Sang Kakek. Ia berjalan perlahan. Tapi, lihatlah! Ada sekumpulan kupu-kupu berterbangan di kedua sisinya. Beberapa hinggap di tubuh itu.

"begitukah caramu mngejar kebahagiaan? Berlari dan menerjang? Menabrak-nabrak tak tentu arah, menerobos tanpa pedulu apa yang kau rusak?" Sang Kakek menatap pemuda itu. "Nak, mencari kebahagiaan itui seperti menangkap kupu-kupu. Semakin terjang, semaikn ia akan menghindar. Semakin kau buru, semakin pula ia pergi dari dirimu."

"Tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan benda yang kau dapat kau genggam atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah kebahagian itu dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari ke mana-mana. Bahkan, tanpa kau sadari kebahagiaan itu sering datang sendiri."

Kakek Tua itu mengangkat tangannya. Dan, seekor kupu-kupu hinggap di ujung jari. Terlihat kepak sayap kupu-kupu itu memancarkan keindahan. Pesonanya begitu mengagumkan. Kelopak sayap yang mengalun perlahan layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah. Seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.

Teman, benar mencari kebahagiaan layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit bagi mereka yang terlalu bernafsu. Tapi, mudah bagi yang tahu apa yang mereka cari. Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sana-sini.kita dpat saja mengejarnya dengan berlari kencang ke seluruh penjuru arah. Kita pun dapat meraihnya seperti menangkap buruan yang dapat kitas antap setelah mendapatkannya.

Namun, kita belajar. Kita belajr bahwa kebahagiaan tak bisa didapat dengan cara-cara seperti itu. Kita belajar bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang dapat digenggam atau benda yang dapat disimpan. Bahagia adalah udara. Kebahagiaan adalah aroma dari udara itu. Kita belajar bahwa bahagia memang ada dalam hati. Semakin kita mengejarnya, semakin pula kebahagiaan itu akan menjauh.

Teman, cobalah temukan kebahagiaan itu dalam hatimu. Biarkanlah rasa itu menetap dan abadi dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah yang kita lakukan. Dalam bekerja, dalam belajar, dalam menjalani hidup kita, dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi, dan dalam riuh. Temukanlah bahagia itu, dengan perlahan, dalam tenang, dalam ketulusan hati kita.

Bahagia itu ada di mana-mana.rasa itu ada di sekitar kita. Bahkan, bahagia itu "hinggap" di hati kita, namun kita tak pernah mempedulikannya. Mungkin juga bahagia itu berterbangan di sekeliling kita,namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya.

[Dari: Kekuatan Cinta-Irfan Toni H.]

Api dan Asap

Suatu ketika ada kapal tenggelam akibat diterjang badai. Tak ada penumpangnya yang tersisa. Kecuali, satu orang yang berhasil mendapatkan pelampung. Namun nasib baik belum seutuhnya berpihak pada pria itu. Dia terdampar di sebuah pulau kecil tak berpenghuni. Sendiri. Tanpa bekal makanan.

Orang itu berdoa kepada Tuhan minta diselamatkan. Usai berdoa, ia pandangi penjuru cakrawala. Berharap ada kapal datang. Tapi, tak ada tanda-tanda ada kapal yang diharapkan tiba. Ia berdoa lagi lebih khusyuk. Kemudian, menatap jauh ke laut lepas. Tidak ada kapal datang. Sekali lagi pria itu berdoa, tapi tak ada juga kapal yang diharapkan. Ya, pulau tempatnya terdampar terlalu terpencil. Hampir tidak ada kapal lewat di dekatnya.

Akhirnya pria itu tidak berdoa lagi. Ia telah lelah berharap. Lalu ia menghangatkan badan. Dikumpulkannya pelepah nyiur untuk membuat perapian. Setelah tubuhnya terasa nyaman, pria itu membuat rumah-rumahan sekedar tempat melepas lelah. Disusunnya semua nyiur dengan cermat agar bangunan itu kokoh dan dapat bertahan lama.

Keesokan harinya, pria malang ini mencari makanan. Dicarinya buah-buahan untuk pengganjal perutnya yang lapar. Semua pelosok dijelajahi hingga kemudian ia kembalike gubuknya. Namun ia terkejut. Semuanya telah hangus terbakar, rata dengan tanah. Hampit tak bersisa. Gubuk itu terbakar karena pria itu lupa memadamkan perapian. Asap membumbung tinggi ke angkasa. Hilanglah semua kerja keras semalaman.

Pria itu berteriak marah, "Tuhan, mengapa Kau lakukan ini padaku. Mengapa? Mengapa……?" teriaknya melengking menyesali nasib.
Tiba-tiba terdengar suara peluit. Tuiiit….tuiiiit…. ternyata itu suara sebuah kapal yang sedang mendekat. Kapal itu merapat ke pantai. Beberapa orang turun menghampiri pria yang sedang menangisi gubuknya itu.

Tentu saja pria itu terkejut. "Bagaimana kalian bisa tahu kalau kau disini?" tanyanya penuh keheranan.

"Kami melihat simbol asapmu!" jawab salah seorang awak kapal.

Teman, itulah kita. Kita adalah orang yang manja dan pemarah saat ditimpa musibah. Bahkan selalu menilai bahwa nestapa yang kita terima adalah penderitaan yang begitu berat dan tak pernah dirasakan oleh siapapun. Itulah sebabnya kenpa kita begitu mudah mengeluh, marah, bahkan mengumpat.

Teman, tentu sikap itu tidak tepat. Seharusnya musibah tidak boleh membuat kita kehilangan hati kita. Tuhan harus selalu ada di hati kita, walau dalam keadan yang paling berat sekalipun. Sebab Tuhan itu tidak tidur. Ia tahu betul kegelisahan dan jeritan hati kita. Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan kasih-Nya selalu datang kepada kita. Pada saat dan cara yang tidak disangka-sangka. Hanya saja kita terlalu kerdil untuk memahaminya.


[Dari Kekuatan Cinta-Irfan Toni H.]