Archive for August, 2005

Soe Hok Gie

Soe Hok Gie. Nama ini tiba-tiba kembali menghangat dan diperbincangkan banyak orang. Bagiku, ini adalah kali kedua membaca dan mengenal sosok si Soe. Pertama kali sekitar tahun 1997-1998 saat di mana mahasiswa kembali memainkan peran yang menentukan dalam proses sejarah kekuasaan di negeri ini. Saat itu, sosok Gie muncul lewat bukunya Catatan Harian Seorang Demonstran yang menginspirasi beberapa mahasiswa yang tengah dibakar semangat untuk menumbangkan rezim totaliter Orde Baru dengan sebuah harapan akan muncul perubahan yang dapat mengakhiri krisis ekonomi yang sungguh telah menyengsarakan rakyat kebanyakkan.

Figur Gie seolah-olah hidup kembali. Ia hadir di antara teman-teman mahasiswa kala itu untuk meyakinkan mereka bahwa gerakan yang digalang mahasiswa ini ada digaris moral. Moral force bicara tentang benar atau salah. Tidak mempedulikan kuat atau lemah. Tidak ada kepentingan politik didalamnya. Aspirasi semata demi kebenaran. Oleh sebab itu kezaliman dalam wujudnya apapun – kekerasan, korupsi dan ketidakadilan ekonomi, maupun hegemoni (penguasaan atas makna) – layaklah ditentang. Dahsyat! Sebuah bibit kecil kekaguman tertanam di lahan jiwa para muda.

Tujuh tahun kemudian, di tahun 2005, Soe Hok Gie hadir untuk kedua kalinya bagiku. Tidak dalam lembaran-lembaran buku. Soe hadir dalam wajah, tindak laku, dan pertuturan dalam sebuah masa. Soe dalam sebuah film: Gie.

Soe Hok Gie yang pernah terbayang, dalam sebuah karya sinema layar lebar, ternyata tampil dalam rupanya yang tak dinyana. Gie yang seorang aktivis pergerakan mahasiswa dan pencinta alam (ia salah seorang yang mengorganisasikan terbentuknya Mapala UI) memvisual dalam postur yang tinggi, lebih besar, tegap, putih dan teramat ganteng.

Begitukah perawakan Gie yang sesungguhnya? “Wajah tidak mirip,” demikian kata Herman Lantang, sahabat Gie yang mengenalnya dekat. Akan tetapi, tak bisa dipungkiri oleh Herman, “Soe Hok Gie hidup lagi”. Ya, Nicholas Saputra telah menjelma menjadi Gie yang cerdas, konsisten dan kritis dalam bersikap. Tak cuma itu, Nicholas juga mampu mengangkat sosok Gie yang resah, yang tak pernah nyaman dengan lingkungan sosialnya yang penuh kemunafikan. Terlebih dari itu semua adalah – Nicholas patut diajungi dua jempol untuk perannya kali ini – gerak tubuh dan gaya bicaranya sangat-sangat menghidupkan sang tokoh kembali. Begitulah pengakuan para sahabat ataupun orang-orang yang pernah mengenal Gie.

Menurut Riri Riza, sang sutradara sekaligus penulis scenario, film Gie bukan semata rekonstruksi terhadap sosok Gie tapi adalah intepretasinya terhadap Soe Hok Gie. Seperti apa Soe yang diintepretasikan Riri?

Seperti pohon Oak yang menentang angin. Soe Hok Gie lahir dari darah keturunan Tionghoa yang besar di bilangan Kebun Jeruk, Mangga Dua Kota, Jakarta. Sejak sekolah di tingkat sekolah dasar ia telah menunjukkan sikap teguh untuk sebuah kebenaran. Perdebatan dengan guru tentang berbagai topik pelajaran – terutama sastra dan sejarah yang sangat diminatinya – menjadi warna mencolok di antara teman-teman seusianya di sekolah. Menurut Gie sendiri, apa yang dilakukannya hanyalah sebuah bentuk bertukar pikiran saja. Tapi tidak bagi si guru yang ditangkup dalam tudung feodalisme, sikap Gie dianggap sebagai perlawanan dan sikap kekurangajaran. Oleh sebab itu, Gie harus dihukum dengan memberikan padanya pengurangan nilai. Gie marah. Tapi ia tidak menunjukkan itikad perang pada si guru. Hanya ia bertahan, tidak mengubah pendiriannya terhadap kebenaran yang diyakininya. Gie kecil telah menunjukkan sebuah keteguhan hati yang hanya tunduk pada kebenaran. Sebuah prinsip yang tertanam sejak kecil.

Semasa SMP, Gie sudah terbiasa melahap karya-karya pujangga besar seperti Goethe, Tolstoy, dan Rabindranath Tagore. Ketika SMA, ia menentang keras ide demokrasi terpimpin yang digagas oleh Presiden Soekarno pada masa itu. Baginya, demokrasi terpimpin adalah bentuk lain dari otoritarianisme dan akar dari kediktatoran. Demokrasi terpimpin itu adalah penyimpangan dan pengingkaran terhadap sifat dasar dari demokrasi yang sesungguhnya. Begitulah Gie semasa remaja.

Memasuki dunia kemahasiswaan, idealisme dan harapan untuk kemuliaan bangsanya, keadilan, dan kepedulian bagi rakyatnya, berbenturan dengan sikap penguasa yang arogan dan acap dipenuhi konflik antar elite, seolah tak peduli pada penderitaan rakyat yang sudah sekarat. Para elite malah memanfaatkan kelemahan kondisi rahayat ini untuk sebuah kekuasaan. Mahasiswa, dalam kondisi seperti ini, menurut Gie tidak boleh tinggal diam. Mahasiswa harus bergerak untuk sebuah perubahan.

Saat kekuasaan berganti dan keadaan masih tetap jauh dari harapan, Soe Hok Gie tetap berperang, mengaktualisasikan dirinya dengan pena dan tulisan-tulisannya. Dengan diskusi-diskusi. Dan dengan perjalanannya mendaki gunung, menyusuri pedesaan, dan bercengkerama dengan masyarakat yang jauh di pelosok-pelosok kaki gunung sana. Sayang, perbincangan-perbincangan Gie dengan masyarakat desa ini tidak mendapat porsi cukup dalam film Gie. Padahal, kegelisahan dan konflik batin yang dirasai Gie tak bisa dilepaskan dari kedekatannya dengan alam dan kehidupan sosial di dalamnya. Seperti kata John Maxwell, konsultan sejarah dalam film Gie, Gie adalah lensa yang luar biasa berharga dalam melihat situasi politik Indonesia di tahun 1960-an.

Setting film Gie memang lebih banyak bercerita tentang masa hidupnya di dunia kampus. Selain tentang aktivitas gerakan mahasiswanya, tentang pesta buku dan cinta – sebagai mottonya mahasiswa – rasanya sudah semua terangkum dalam film Gie. Karena ini pula, maka Gie dalam film Gie sudah tergambarkan sebagai sosok anak muda yang terlahir dengan pemikiran-pemikiran yang melampaui zamannya. Gie sudah terintepretasikan seperti yang dia mau, yaitu seperti pohon oak yang berani menentang angin.

[From jbqq]