Archive for November, 2005

Hidup yang Nggak Ngebosenin

Forrest_gump_001

"Pokoknya, nggak enak deh jadi orang idiot. Orang-orang pada ketawa, nggak sabaran, dan suka seenaknya sama kita. Padahal mereka mestinya lebih ramah sama orang cacat, tapi asal tahu aja, nggak selalu begitu lho. Tapi aku nggak mau ngeluh kok, soalnya aku rasa hidupku bisa dibilang cukup seru"

Itu penggalan paragraph pertama dari novelnya Winston Groom, yang di kasi judul Forrest Gump. Bagi yang udah pernah baca atau udah nonton pilemnya, pasti bakalan terus teringat pada sosok Forrest yang menakjubkan. Ya, ia memang seorang idiot ber-IQ 70. Tapi Forrest bukan sembarang idiot. Dia idiot yang mahir di lapangan football, jenius fisika. Dan ia bahkan dikirim ke Cina untuk mewakili US di pertandingan ping pong. Can you imagine? Oh, itu belum semua. Forrest juga pinter maen harmonica dan maen catur! Dan si Forrest ini bener2 ngalamin petualangan2 yang menghebohkan. Dan entah kenapa, semua hal dan apa pun serta siapapun yang berputar dalam cerita hidupnya jadi keliatan konyol. I mean, contohnya aja waktu Forrest cerita tentang kematian Papa nya yang kerja jadi tukang angkut barang di dermaga. "Suatu hari ada jala penuh pisang dari kapal United fruit Company yang robek, pisangnya nimpa Papa ku, dan dia gepeng kayak martabak…" begitu katanya Forrest. See what I mean?

Waktu umurnya enam belas, tingginya 198 centi, beratnya 121 kilo (wow!). Kebesaran badannya inilah yang bikin dia di rekrut sama tim football di Uni sampe dia nerima penghargaan segala. Dan tau nggak apa yang diucapin si Forrest waktu ngasi sambutan? "Aku kebelet". Dia ngomong gitu aja di depan orang banyak lho. Emang sih dia waktu itu lagi kebelet banget mo pip, tapi ya ampyuunnn! Forrest… Forrest…

Aduh, pokokna kalo kamu baca novel ini, kamu nggak mungkin bisa nahan tawa deh. Ada aja kekonyolan yang sebenernya nggak di sengaja ama Forrest, tapi gimana lagi, orang2 nggak berpikir seperti yang dipikirin dia sih. Jadi apa yang dikerjain en diucapinnya itu menurut dia bener2 aja, tapi nurut orang lain big mistake!  Kayak waktu Presiden Amrik nanyain en suru Forrest nunjukin bagian mana yang kena tembak dalam perang Vietnam. Si Forrest santai aja dong, dia langsung buka celana en nunjukin bagian belakangnya yang bekas ditembak. Tapi kepolosan dan keluguannya itu dianggap ngina Pesinden eh salah, Presiden. Pusing deh jadi Forrest. Kita mungkin sering juga ya ngalamin kek gini. Menurut kita apa yang kita lakuin itu bener2 aja, tapi orang lain nganggep itu nggak boleh terjadi, en kita di cap sebagai anomali. Manusia emang paling gampang kalo ngasi label. *Geleng2 kepala, sok merenung* . I mean, kalo kita muslim, kita punya satandar perilaku sendiri dong. Dan selama apa2 yang kita kerjain itu nggak keluar dari koridor syar’i, masa bodo sama pendapat orang (well, that’s me) karena Cuma penilaian Allah saja lah yang harusnya kita percayai.

Back to the story, lewat buku ini, kita di ajak ikut dalam petualangan Forrest yang seru2. Kita di ajak menyelami pikiran nya si Forrest yang beda dari manusia kebanyakan. Kita diajak untuk ngeliat dunia dari sudut pandang berbeda. Kita diajak untuk sadar bahwa, di balik kekurangan orang pasti ada kelebihannya. Dan si Forrest ini sodara2, bener2 orisinil deh (meaning?).

Saya kurang setuju waktu Forrest bilang hidupnya cukup seru. Dapet penghargaan di bidang football, di kirim ke Cina buat maen ping pong, sempet ngalahin master catur, di utus NASA ke luar angkasa walo akhirnya nyasar ke perkampungan tribal, jadi figuran dalam pilem Hollywood, jadi idola di dunia gulat professional sampe buka tambak udang sendiri. Cukup seru? That’s awesome!!!

"Ah, memangnya kenapa? Aku memang idiot, tapi aku Cuma berusaha ngerjain hal yang benar. Jadi apapun yang terjadi, paling nggak aku bisa bilang hidupku nggak ngebosenin"

Bravo Forrest! Selama kita berusaha ngerjain hal2 yang benar, hidup kita akan selalu jadi lebih baik, right guys?

Best We Ever Had

Waktu orang yang kita sayangin ninggalin kita, rasanya pasti sakiiiiiiiiiiittttttttt banget. Langit kayak runtuh di depan mata kita. Dunia sudah nggak bersahabat lagi. Tuhan nggak adil karna dah ngambil orang yang paling berharga yang kita punya. Kita menggugat…

But, wait a minute. Did I hear,… paling berharga yang kita punya?

Hhhhh… kita kadang2 suka ngaku2 memiliki sesuatu atau seseorang. Jadi waktu orang itu ninggalin kita, kita kelabakan karena ngerasa keilangan en nggak siap di tinggalin. Padahal, apakah kita benar2 "memiliki"? Apakah kita, manusia, benar2 "mempunyai" sesuatu?

Kalo kita tanamkan pada diri sendiri bahwa kita nggak punya apa2, mungkin kita bisa berpikir, gimana bisa keilangan kalo nggak pernah punya? You can’t lose what you never had, kata seorang teman pada saya. Resep yang bagus. Tapi, saya belum bisa ngejalanin nya. Saya masih aja sedih kalo inget orang2 tercinta yang pegi duluan. Rasanya ada bagian dari diri saya yang dirampas paksa. Saya jadi gak utuh lagi….

Auk ah gelap

Bintang di Langit Hati

Adakah cara menyimpan sinar matahari? Mungkin aku harus belajar pada bulan. Yang dengan cerdik menyesapnya. Walau ia tidak pernah bisa seperti matahari.

Adakah cara mengabadikan purnama? Ups, tanganku dengan cepat membentuk kepalan dan menjitak ubun-ubun perlahan. Adakah yang abadi selain keabadian itu sendiri?

Bagaimana bintang bisa sedemikian indahnya? Pertanyaan yang tidak penting (Atau justru sangat penting?). Ia memang tidak selalu tampak. Kadang bintang terlalu malu untuk tampil (atau itu hanya perasaan ku saja?). Tapi aku yakin mereka selalu ada. Bahkan bila ternyata tanpa sepengetahuanku bintang-bintang itu jatuh, hancur, dan tidak lagi bersinar. Aku tetap yakin mereka masih ada. Dan apakah yang bisa mengalahkan keyakinan anak manusia? (Kematian hanya merenggut nyawa).

Hhhh… Kapankah aku berhenti bertanya?

[Untuk bintang-bintang yang tak pernah lelah menerangi malam-malam ku. Terimakasih bintang ku.... Peluk cium buat Reni dan Fitri, bintang yang belum pernah ku temui.....]

Dan Kita Bisa Terus Tertawa

Aku sangat ingin berjumpa dengan mu
Masih saja aku bertanya, mengapa kau pergi?
Seperti baru kemarin kita tertawa
Menertawakan lelucon yang Cuma kita bisa mengerti
Tahukah, tak pernah kubayangkan hidup sehari saja tanpamu

Dan bila aku berjanji tidak bersedih,
Akankah kau menunggu ku?

Detik tak pernah berhenti
Dan mungkin sulit untuk kembali tersenyum
Tapi mungkin aku bisa bertahan
Bila kau mau menunggu

Samudera air mata ku
Tak kan bisa membawa mu kembali
Jadi, bersediakah kau menungguku?

Masih ingatkah hari-hari
Yang berlalu begitu cepat
Jangan salahkan aku,
Ku kira kau akan selalu menemaniku

Aku merasa dikhianati
Kita bahkan tidak pernah bilang selamat tinggal

Bersediakah kau menunggu ku
Di surga-Nya?
Dan bila kita kehabisan tempat
Mungkin kita bisa nongkrong di pinggir jalan menuju surga
Berdoa saja
Para malaikat terlalu sibuk untuk memperhatikan kita
Dan kita pun bisa terus tertawa