Berdiri di kelabu nya hujan
Beku, tapi tak sendiri
Bersama harapan untuk esok
Sementara meminjam waktu yang tak lama
Bernyanyi sesuai irama musim
Kisah masih akan berlanjut
Karena esok adalah harapan
Dan mimpi akan terwujud
Berdiri di kelabu nya hujan
Beku, tapi tak sendiri
Bersama harapan untuk esok
Sementara meminjam waktu yang tak lama
Bernyanyi sesuai irama musim
Kisah masih akan berlanjut
Karena esok adalah harapan
Dan mimpi akan terwujud
Adalah absurd untuk ada dua pribadi dalam hati
tanpa manjadi pesakitan
ini bukan bentuk penjajahan
Hanya dua keinginan yang tak bisa disatukan
Aku ingin jalanku terang sekaligus tenang
Bersahabat dengan keramaian dan sunyi
Dan bingung ku menjadi
Aku tahu apa yang ku mau
Aku ingin sempurna
Tapi tak bisa diterima
Tenggelam dalam retakan
Dan perenunganku berlanjutlah
Semalem abis ngimpi aneh. Aneh banget. Aku mimpi…. punya bayi. Nggak tau awalnya gimana, tau2 aku udah melahirkan trus nimang2 bayi. Ya ampyunnnn…. perasaan tu seneeeeeeeeeeeeennnnnnnnnngggg banget. Bayinya cowok. Matanya sipit (ya iya lah, mata ku juga sipit). Tapi aku nggak jelas sama wajah suamiku. Ya ampyunnn (lagi)…. aneh banget. Waktu bangun tu ada rasa yg meledak2 di dada. Kayak bener2 punya bayi. Masih belum ilang rasa seneng waktu nimang2 bayi itu. Kayaknya suara tangis bayiku itu masih terngiang2. Trus, masih bisa ngeliat tawanya bayiku itu. Bahagianya masih nyisa. Aduuuh… ternyata gitu ya rasanya punya bayi. Baru di mimpi aja udah seneng banget, apalagi kenyataan. Punya bayi………
Holiday is over, for me. Kayaknya saya bener2 idup ngelawan arus (cieee… suit….. suiww…). Waktu orang2 pada sibuk ngerjain skripsi, ribut konsultasi, cari referensi, saya hidup dengan tenang dan santai (bahasa halusnya: mengalami stagnansi berfikir). Enam bulan saya ambil libur. Nggak nyentuh skripsi sama sekali. Most of the time saya abisin buat baca2 buku2 yang nggak ada kaitannya sama sekali ama skripsi. Tapi ternyata kita emang gak bisa lama2 lari. Pada suatu ketika kita harus berhenti dari pelarian, ambil nafas panjang, eit, jangan lewat bawah donk ngeluarinnya (hehehe…) dan menghadapi tanggung jawab dari masalah yang melanda hidup.
Saya mencapai titik kulminasi dari stagnansi enam bulan berdiam diri setelah baca bukunya Paul Hanna yg judulnya: YOU CAN DO IT!. Right! Saya bilang sama diri saya sendiri: SUDAH CUKUP! Saatnya saya harus menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Setelah enam bulan mandul, saya memutuskan pergi ke dukun pijet (nggak ding. Hehehe…), saya mutusin untuk banting setir: saya ganti judul skripsi, bikin proposal lagi dan bener2 serius ngerjainnya. Hari Rabu tanggal 11 Januari kemaren saya pantengin perpustakaan. Bukan lagi buat nyari buku cerita, tapi segala hal yang berhubungan dengan judul baru saya. Setelah itu saya obok-obok Uncle Google. Saya paksa nyariin referensi. Mulai jam satu siang saya duduk bersila didepan komputer tersayang. Saya elus2 dulu tu kompor (thanx for the hard work, kom….), baru kemudian dengan membabi buta saya gelitikin si keyboard. Besoknya (wow! I finished the proposal in one day. Kenapa nggak dari dulu ya? Baru sekarang lo nyesel Yo! Nggak papa, yang penting sekarang semangat itu udah kembali), saya ngadep Ibu dosen pembimbing tersayang en nyerahin proposal itu. Sekarang tinggal nungguin Ibu nyoret2 proposal itu, baru kemudian bisa saya repisi lagi. Ngerjain BAB I, trus BAB II, teruuussss…. sampe selesai. Ya Robb, yassirly amri…. Amiin….. Allahumma Amiin…..
Hhhhh…. SEMANGAT!!!! I CAN DO IT!!!!
[Kalo ada yg kenal ma Om Paul tolong sampein tengkyu banget ya, bukunya bener2 mujarab]
13 Jan 2005
Ternyata e ternyata kentut aja bisa mencerminkan kepribadian orang lo. Kalo orang ngentut nya keras dan tegas ya artinya tu orang juga tegas. Apalagi kalo pake bau segala. Wuih double keras tegas en nyelekit deh. Kalo orang ngentut nya pelan tapi pasti "prettt" gitu bunyinya tapi pelan. Ya artinya tu orang walo tindakannya pelan2 tapi dia suka yang pasti2 aja. Trus kalo dia ngentutnya nggak bunyi tapi baunya naujubile, artinya dia intropet tapi sekali ngomong atau bertindak langsung ngena. Diem2 makan dalem gitu istilahnya. Kalo orang itu ngentutnya ditahan2 sehingga soundeffectnya gini: "psiuwww….." itu tandanya dia itu selalu berusaha menahan diri tapi keseringannya nggak bisa.
Nah, yang mana kah tipe kepribadian anda?
Hujan lebat. Sungai meluap. Banjir bandang. Tiga frase itu saling berjalin berkelindan. Tiga peristiwa itu akan berlajut dengan rumah hanyut, pengungsian, penyakit, dan penderitaan. Banjir bandang yang baru-baru ini melanda Jember dan Gresik bagai tsunami "kecil" yang tidak kecil akibatnya. Lebih dari 80 jiwa tak terselamatkan, puluhan luka dan terserang bermacam penyakit sebagai efek samping kondisi lingkungan yang buruk. Sekali lagi empati dan kesetiakawanan kita diuji. Banyak tangan yang membantu meringankan beban penderitaan para korban banjir. Walaupun ada beberapa yang mengambil keuntungan dari musibah saudaranya. Ada banyak LSM yang turun membantu kesusahan warga. Saya pun teringat obrolan saya dengan seorang teman yang menganggap membentuk LSM atau lembaga sosial semacam adalah haram hukumnya karena bantuan dari LSM-LSM ini akan membuat masyarakat terlena dan menjauhkan mereka dari kesadaran akan kewajiban pemerintah yang hakiki yaitu mengurusi urusan ummat sampai sedetil-detilnya. Apabila masyarakat merasa cukup dengan bantuan dari LSM dan organisasi2 sosial itu, maka hak mereka yang merupakan kewajiban pemerintah itu akan terlupakan. Dan pemerintah pun akan tertawa lebar dengan jumawa dan asyik memperjuangkan hak mereka macam kenaikan gaji dan tunjangan alih-alih memikirkan dan memperjuangkan hak rakyatnya.
I don’t know. Saya masih belum bisa menerima ide itu. Lihat saja kondisi pemerintahan kita sekarang. Kalau hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah yang hutangnya sudah bertumpuk itu, mungkin rehabilitasi Aceh akan berjalan lamban (wong, banyak LSM dan batuan asing aja rehab nya nggak bisa dibilang cepet kok). Tapi mungkin ada benernya juga. Kalo misalnya nggak ada LSM, mau nggak mau pemerintah harus mengambil alih semua tanggung jawab untuk membantu korban. Dan kalo pemerintah nggak mampu mengatasi masalah itu, akan ada banyak jiwa yang tidak bisa diselamatkan dan kondisi lingkungan akan makin memprihatinkan. Dengan begitu masyarakat akan sadar akan kebobrokan sistem dan orang-orang yang bergulat di dalam sistem tersebut. Sehingga rakyat pun akan bangkit dan menuntut perubahan mendasar terhadap sistem yang berlaku. Seperti saya pernah baca di topic nya sebuah room IRC yang berterima kasih pada pemerintah karena kenaikan BBM akan mempercepat REVOLUSI. Walau harapan itu sepertinya terlalu berlebihan karena rakyat masih saja lelap, dan walaupun sudah terbangun dari tidur panjang, rakyat berdiri pada sebuah pemakluman dan sikap skeptis akut (atau cuma saya yang begitu?).
Huhuhuhu… Kepengen makan bakso…
Kalo denger suara mangkok dipukul2, bawaannya pengen makan bakso aja. Apa lagi kalo lewat depan Josh grobak, eh maksudnya grobak bakso. Hasrat di dalam dada rasanya tiada tertahankan lagi. Yoan kok susah amat ya mau makan bakso aja. Kan tinggal beli aja. Iya sih, emang. Tapi do you know, sekarang tu kalo mau beli bakso kudu ati2 banget. Di Malang, MUI udah ngadain penelitian en hasilnya tu bener2 bikin sema’ut para penggemar bakso (hiperbolis banget yak?). Gimana gak sema’ut, penelitian MUI itu membuktikan bahwa sekitar 90 % bakso di Malang, baik yg model grobak ato model warung bakso atau yang Elite Model Look *lho? Salah ya?*, itu mengandung daging anjing en babi sodara2! Huhuhu… susah banget ya cari makanan yang bener2 halal. Katanya sih, mayoritas penggilingan daging di Malang itu terjadi ikhtilat (hehehehe…. pencampuran, maksudnya) antara daging sapi en daging banjing (babi + anjing, gitu). Gimana tuh? Susye syekali ye. Jadi saya kalo mau beli bakso tu kudu ke Pasar Besar yang jauhnya tu kalo dari rumah Way Halim ke Bambu Kuning lah (pada ngerti nggak? Nggak ya? Hehehe…sekitar setengah jam-an naek angkot). Soalnya saya Cuma tau satu tempat itu yang Insya Allah halal. Yang jual tu sodara nya temen saya sekampus. Mreka juga nggiling sendiri dagingnya. Di tambah jaminan dari temen saya yang Insya Allah ngerti tentang pentingnya status halal buat muslimin dan muslimat.
Walo pun saya lagi ngidam kepengen bakso, tapi kalo nggak bisa ke Pasar besar ya kudu di tahan. Nggak berani dong beli bakso di jalan2 yang belum ketauan halal apa nggak nya. Apalagi baru2 ini ada berita di Trans TV ttg tikus yang juga jadi campuran dalem bakso. Belum lagi masalah formalin en boraks. Hiyy.. nggak ngebayangin kalo sampe berani makan makanan yang meragukan status kehalalannya. Ntar masuk ke tubuh, jadi daging, jadi darah, mengalir ke seluruh tubuh, dan NGGAK HALAL! Hiyy… syeremm banget. Naudzubillah min dzalik ya Allah, lindungilah kami dari hal2 yang tidak Engkau sukai….
Ia kembali melongokkan kepalanya keluar jendela, menatap langit yang berantakan oleh bintang dan ribut sendiri. Ia selalu histeris akan hal-hal yang tak kumengerti. Setelah kami berdua duduk di atas rumput, ia pun menjelaskan dengan tabah. "Coba lihat…langit begitu hitam sampai batasnya dengan bumi hilang. Akibatnya kerlip bintang dan lampu kota bersatu, seolah-olah berada di satu bidang. Luar biasa kan?"
Egi selalu mampu menggambarkan segalanya dengan tepat, indah dan rasional. Atau mungkin itulah satu-satunya cara agar aku mampu mengerti keindahan yang ditangkap matanya. Aku bukan pujangga dan tidak pernah menyukai makna-makna konotatif. Monokrom dan kurang dimensi, begitu katanya selalu tentang diriku. Pragmatis dan realistis, demikian aku menerjemahkannya.
Dengan segala rasio dan akal, aku pun mencintai wanita di sampingku itu. Egi, yang telah lama kukenal, teman baikku, sosok yang dapat kubanggakan sekaligus kukagumi. Ia mampu berpanjang lebar menjelaskan filosofi cinta dan adieksistensinya, sementara aku sendiri tak akan pernah menganalisis cinta. Yang aku tahu, aku amat peduli dengannya, sebisa mungkin ingin selalu bersamanya, dan aku yakin kami dapat bekerja sama membina apa pun, termasuk rumah tangga. Itulah aplikasi substansi Cinta bagiku, dan cukup sekian. Egi juga tahu itu.
"Kamu nggak kedinginan?" tanyaku sambil siap-siap membuka jaket.
Mendengarnya Egi yang hanya memakai cardigan tipis menjadi sadar akan dinginnya cuaca. Ia pasti telah hanyut jauh dalam dunianya sendiri. Dalam balutan jaketku Egi pun meringkuk. Matanya masih menerawang. Aku tahu apa yang ia lamunkan apalagi setelah mendengar helaan nafasnya, tapi aku enggan bertanya. Untuk apa mengungkit sesuatu yang akan membuat pikiranku terganggu.
Tak lama kemudian kami kembali ke Jakarta.
***
"Sudah lama ya kita nggak jalan-jalan ke Puncak lagi," ujar Egi yang melengang dengan sikat gigi di tangan. "Terakhir kapan ya?"
"Fiuh, bulan yang lalu? Waktu langit dan bumi jadi satu itu."
Egi menatapku lucu. "Kamu punya ingatan hebat, tapi kamu mengatakannya sama datar dengan bilang’1+1=2’…"
Suara sikat beradu dengan gigi pun menggema dari kamar mandi. Egi selalu lama kalau menyikat gigi. Aku pun kembali meneruskan bacaanku, dengan kaki berselonjor di sofa panjang.
Tiba-tiba suara gosokan itu berhenti. Malam yang heningh membuatku menjadi awas akan perubahan yang terjadi. Aku melirik sedikit, pintu kamar mandi terbuka dan Egi tengah berdiri mematung dengan sikat gigi penuh busa.
"Gi….kamu baik-baik saja?"
Cukup lama Egi tidak menjawab, sampai akhirnya perlahan ia berkumur.
"Tyo, saya kepingin pulang saja ya." Dengan lunglai ia menghampiriku.
"Sudahlah, kamu di sini saja, besok pagi saya antar pulang. Saya malas keluar lagi," kataku seraya menguap. Aku tak perlu berbasa-basi dengan Egi. Kami sudah cukup dewasa dan cukup dekat satu sama lain untuk tidak lagi canggung kalau Egi terpaksa menginap di tempat tidurku sementara aku tidur di sofa panjang ini, bangun pagi dan sarapan bersama, sampai aku mengantarkannya pulang atau langsung ke tempat kerjanya. Egi bahkan menginventariskan sebuah sikat gigi di kamar mandiku.
Tiba-tiba mata itu berkaca-kaca. "Saya merasa nggak karuan," gumamnya pelan.
Mendadak aku merasa bersalah. Seringkali aku bersikap terlalu kritis kalau Egi menangis. Aku selalu berusaha menginjeksikan logika yang kupikir perlu namun ternyata malah membuat ia makin sedih dan menganggap aku tak bisa atau tak suka menolongnya. Tak heran kalau ia lebih memilih pulang daripada harus meledakkan tangisnya di depanku.
"Kamu di sini saja. Menangis sesuka hati. Saya janji akan diam, oke?" Aku tersenyum dan menariknya duduk di sampingku, kembali membaca.
"Tyo…" panggilnya setelah sekian lama mematung.
"Hmmm?"
"Saya suka sekali menyikat gigi. Mau tahu kenapa?"
Ingin sekali kulontarkan jawaban spontan, seperti ‘supaya gigi tidak bolong’ atau ‘afeksi berlebihan akan rasa odol’, tapi kuputuskan untuk diam.
"Di saat saya menyikat gigi saya hampir tidak mendengar apa-apa selain bunyi sikat. Nyaris tidak memikirkan apa-apa karena berkonsentrasi penuh walaupun cuma dua atau tiga menit. Dunia saya mendadak sempit…hanya gigi, busa dan odol. Tidak ada ruang untuk yang lain. Hitungan menit, Tyo, tapi berarti sangat banyak."
Aku tahu apa yang kau maksud, wahai Egi, pujanggaku sayang. Untung sudah cukup lama aku terlatih membaca makna-makna tersirat dalam kalimatnya, walaupun belum cukup lama untuk mengerti alasan-alasan di balik itu semua. Seperti untuk apa ia memilih menikmati luka yang cuma bikin ia sedih dan menangis.
Aku menatapnya iba. Egi dengan air mata yang berlinangan di pipi, tangisannya yang tak pernah bersuara. Dan linangan itu menderas ketika aku menutup bukuku, memilih untuk merangkulnya.
"Kamu…pasti sebenarnya…sudah ingin ngomel-ngomel." Ia berbisik susah payah.
"Saya tetap tidak mengerti. Tapi semuanya terserah kamu…" Aku menghela nafas seraya menepuk-nepuk bahunya.
Saat seperti ini membuatku berpikir lagi, jangan-jangan aku terlahir cacat. Ada satu bahasa di semesta ini yang tidak masuk ke dalam paket kelahiranku, makanya aku selalu gagal mengerti, sekalipun seorang ahlinya ada sangat dekat di sini. Egi adalah guru besar bahasa aneh itu. Bahasa yang berasal dari planet tempat cinta adalah segala-galanya dan mempunyai logika dan hukumnya sendiri. Dan apa pun yang kupelajari selama ini tetap tak mampu mendekatkanku pada pengertian komprehensif akan hal satu itu.
***
Ulang tahunnya yang ke-27. Setelah makan malam bersama teman-teman kami yang dipenuhi tawa dan keceriaan, kini kami kembali berdua. Matanya yang menerawang jauh, kakinya yang meringkuk, nafasnya yang mulai ditarik-ulur. Demikianlah Egi, bahkan di hari seistimewa ini sekalipun.
Keheningan selalu membawanya ke perbatasan yang sama, batas antara dunia riil dan satu alam yang masih tak kumengerti itu. Dan hampir tak ada yang dapat menahannya menyeberang.
"Ini…hadiah untuk kamu." Aku membuyarkan lamunannya.
Egi agak terkejut melihat kotak yang disodorkan di depan amtanya. Ia pun tertawa kecil. "Sejak kapan kamu kasih kado segala?"
"Usia 27 adalah usia penting." jawabku sekenanya.
Tawanya semakin lebar ketika ia tahu apa isi kotak itu.
Aku langsung sibuk menjelaskan, "Sikat gigi elektronik. Bergaransi, watt kecil, anti plak, sikatnya banyak dan masing-masing beda fungsi. Seri ini punya kemasan khusus buat travelling, jadi kamu bisa pakai di rumah atau bawa ke tempat saya…tidak akan terlalu repot. Ini buku panduannya…"
"Tyo," potongnya geli seraya menahan tanganku. "Saya tahu kamu adalah manusia paling realistis yang pasti akan memilih hadiah praktis seperti ini, tapi…kenapa sikat gigi?"
Aku menatap kedua mata itu, dan untuk pertama kalinya ada kegugupan yang entah hinggap dari mana.
"Soalnya…ehm soalnya…" Aku gelagapan dan buru-buru menunduk.
Kuatur nafas sejenak dan mengusir jauh-jauh keparat yang telah menghambat lidahku, melirik sekilas dan mendapatkan Egi tengah menunggu jawabanku sambil tersenyum. Senyuman yang mampu mencairkan sel-sel kelabu otak. Senyuman Egi dari dunia nyata, bukan antah berantah itu.
"Saya tidak pernah mengerti dunia dalam lamunan kamu," kata-kata itu akhirnya meluncur keluar.
"Pengharapan apa yang kamu punya, dan kekuatan apa yang sanggup menahan kamu sekian lama di sana. Tapi kalau memang menyikat gigi adalah satu dari sedikit tiket yang bisa membawa kamu pulang, maka saya ingin kamu semakin asyik menyikat gigi, semakin lama menggosok. Karena berarti kamu lebih lama lagi di sini, di satu-satunya dunia yang saya tahu dan mengerti. Satu-satunya tempat di mana saya eksis bagi kamu."
Ia terperangah. Menjauh.
"Egi…jangan…" Langsung aku berkata was-was.
"Kamu tahu perasaan saya dan saya tidak pernah mau membahas soal ini lagi…"
"Saya juga tidak mau, tapi inilah kenyataanya. Kenyataannya saya tidak pernah berubah dari bertahun-tahun yang lalu… dan saya pikir kamu juga tahu itu. Ya, ampun, buka mata kamu sekali ini saja Egi!"
"Kamu sahabat saya… sahabat terbaik…" Ia makin menjauh. Bersiap menutup diri.
"Sampai kapan kamu terus mengharapkan dia?"
Tak tahan aku pun berseru, "Orang yang tidak pernah hadir di saat-saat kamu paling membutuhkan dukungan, orang yang mungkin memikirkan kamu hanya seperseribu dari seluruh waktu yang kamu habiskan untuk melamunkan dia, orang yang tidak tahu bahwa kamu bahkan harus menyikat gigi hanya untuk bisa melepaskan dia barang tiga menit dari pikiran kamu? Orang yang bahkan sudah punya kehidupannya sendiri?"
"Dia ingin datang. Biar itu cuma dalam hati. Dan dia akan menjemput saya, di kesempatan pertama yang dia punya. Saya juga bisa merasakan kalau dia selalu memikirkan saya."
"Kapan kamu akan bangun, Egi?" keluhku letih.
Ia menggeleng. "Ini yang namanya cinta sejati. Satu hal yang tidak kamu tahu."
Aku balik menggeleng. "Itu kebutaan sejati. Kamu memilih menjadi tuna netra padahal mata kamu sehat. Kamu tutup mata kamu sendiri. Dan kesedihan kamu pelihara seperti orang yang mengobati lukanya dengan cuka dan bukannya obat merah."
Egi menyentuh wajahku sekilas. "Semoga suatu saat kamu mengerti."
Kata-kataku habis sudah. Dalam hati aku menolak tegas pernyataanya dan ia pun bisa melihatnya jelas. Apa yang ia yakini tentang perasaannya berada di luar akalku. Mana mungkin aku bisa mengerti.
Kami berdua berdiri berhadapan, dua manusia yang telah bersahabat bertahun-tahun lamanya, namun malam ini kami merasa asing satu sama lain. Aku mencintai Egi. Egi mencintai pria lain, yang sekarang bahkan sudah berumah tangga. Demikianlah fakta sederhana yang telah kami ketahui bersama. Kemalangan itu diperparah lagi karena keinginanku yang logis untuk memilikinya bukanlah cinta bagi Egi, sementara cintanya Egi adalah substansi ekstra-terestrial bagiku.
Kami tak mampu lagi berkomunikasi.
***
Hampir genap setahun tak ada Egi dalam hari-hariku. Tidak ada lagi yang menerjemahkan keindahan alam. Tidak ada lagi yang menunjukkan signifikasi di balik hal-hal remeh. Tidak ada lagi yang duduk di sofa panjangku untuk melalap buku-buku filsafat. Tapi yang paling aku kehilangan adalah mendengarkan ia menyikat gigi.
Hampir setiap saat aku berusaha merasionalkan semua ini dan kesimpulanku selalu sama…aku harus menemuinya lagi. Bukan satu hal yang sulit untuk menemukannya. Ia masih Egi yang dulu, yang dapat kutemui sore-sore sedang membaca buku di bangku taman berbukit-bukit di komples rumahnya. Yang sulit adalah mengungkapkan apa yang tak pernah aku sadari. Yang sulit adalah tidak punya harapan apa-apa sesudah aku selesai menyampaikannya nanti.
"Egi…"
Ia berbalik, kaget luar biasa ketika mendapatkanku muncul lagi dalam hidupnya begitu saja. Lebih kaget lagi ketika aku langsung duduk di hadapannya dan meraih jemarinay dnegan tanganku yang dingin karena tegang.
"Sebentar saja. Saya tidak akan lama," ucapku cepat untuk meredam rasa kagetnya.
Ia pun seperti tidak bisa berkata apa-apa, hanya jemarinya ikut jadi dingin.
"Saya tidak akan pernah jadi pujangga dan tetap ngantuk kalau baca buku filsafat. Saya tetap Tyo, si pragmatis realis yang melihat segalanya dengan tiga dimensi dan bukannya empat seperti kamu. Tapi sekarang saya mengerti kondisi aneh itu…" Aku menelan ludah. "Karena saya sudah mengalaminya. Kebutaan itu. Dan saya tahu sekarang, saya mencintai kamu bukan hanya dengan logika dan rasio. Bukan karena sekadar kamu memenuhi standar saya, tapi…karena saya juga mencintai kamu di luar akal. Satu tahun saya menemukan cukup banyak alternatif yang masuk akal, tapi saya memang tidak ingin yang lain. Hanya kamu. Apa adanya, termasuk alam lamunan yang tidak pernah ada saya di dalamnya."
"Dan saya tetap Tyo yang kalkulatif dan tidak mau rugi. Tapi saya benar-benar tidak mengharap apa-apa kali ini. Saya hanya ingin mengatakan ini semua dan sudah. Habis perkara." Aku menutup pernyataanku dengan senyum semampunya. Berusaha bangkit berdiri, walau berat sekali. Tangan Egi yang sedingin es batu tiba-tiba menahanku.
"Kamu mau kemana?" tanyanya lirih.
"Mm..jalan-jalan…" jawabku tidak yakin.
"Ikut," ujarnya pendek seraya berdiri melipat buku.
Kami berdua berjalan meninggalkan taman. Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Sama sekali tak ada jejak spasi kosong dari satu tahun yang sepi itu.
"Saya sendiri sudah banyak berpikir murni dengan sel-sel otak seperti yang kamu anjurkan, menerjemahkan apa yang kamu anggap absurditas. Dan kesimpulannya…" Ia berkata lamat-lamat, "Tidak akan ada orang lain yang mengerti alam itu selain kita sendiri. Tapi kemanapun yang saya pilih kamu tetap orang yang paling nyata dan paling berarti. Saya tidak harus menyikat gigi untuk bisa pulang. Kamu adalah jalan pulang, rumah yang nyaman dan tiket sekali jalan. Saya tidak ingin pergi lagi. Itu juga kalau kamu tidak keberatan kita menjalaninya pelan-pelan."
Perjalanaan singkat menuju mobilku sore itu adalah gerbang menuju sebuah perjalanan baru yang panjang.
***
Egi benar. Banyak hal yang tak bisa dipaksakan, tapi layak diberi kesempatan. Dan kesempatan itu harus ditawarkan setiap hari oleh kedua belah pihak. Aku pun benar, kami berdua mampu membangun apa saja, baik persahabatan belasan tahun maupun kebersamaan seumur hidup.
Setiap kali aku duduk di sofa dan memandang Egi yang asyik menyikat gigi, ketakutan itu kadang-kadang datang. Ketakutan kalau suatu hari aku terpaksa harus menariknya pulang dengan paksa, dan sikat gigi tak mampu lagi menjadi tiketnya. Ketakutan kalau aku harus kehilangan dunia absurd tempat perasaanku kepadanya bersemayam, dunia yang ternyata amat kusukai. Ketakutan yang timbul justru karena sekarang aku benar-benar mengerti perasaan Egi dan semua alasannya dulu.
***
Dewi Lestari atau akrab dipanggil Dee alumnus Hubungan Internasional Universitas Parahyangan Bandung. Lahir di Bandung, 20 Januari 1976. Anggota trio vokal RSD/Rida Sita Dewi dan sudah menyelesaikan tiga album rekaman. Novel pertamanya Supernova, Ksatria, Putri dan Bintang jatuh (terbitan TrueDee Books, 2001) diterbitkan lewat label indie. Kini sedang menyiapkan album solo pertamanya yang ditulis dalam bahasa Inggris, Out of Shell (juga akan beredar lewat label indie, TrueDee) dan melanjutkan episode lainnya dari novel Supernova yang ditulisnya. Selain itu ia kini juga menjadi kontributor artikel di majalah musik indie, Trolley. Cerpen Sikat Gigi semula pernah dipublikasikan di buletin seni Bandung, Jendela Newsletter edisi Juni 2000. Atas seijin penulisnya dimuat kembali sebagai cerpen tamu di Cybersastra.
Malang di guyur hujan yang bagai tanpa henti. Datang rutin serutin orang minum obat. Tiap siang menjelang sore, dengan setia rintik yang akan makin menderas itu bertandang. Butiran air nya berpacu menciumi bumi, seperti ditumpahkan begitu saja dari keluasan langit di atas sana. Hujan akan tetap mendekap bumi bahkan hingga malam tiba, untuk esok pagi meninggalkan tanah basah yang dengan senang menodai bagian bawah pakaian dan mewariskan lumpur di hak sepatu. Untung saja hujan datang bagai dijadwal. Sekitar pukul dua siang baru ia datang. Pakaian yang dicuci pagi sekali, jadi punya harapan kering. Walau kadang dari pagi ia sudah tertawa terbahak-bahak, menyemburkan air ke bumi yang dengan rakus menelannya dan menyisakan danau-danau kecil pada jalan berlubang. Tapi apapun ulahnya, aku tetap suka sekali pada hujan. Memandanginya saja sudah menimbulkan sejuk di hati ini. Apalagi menari dan mendekap nya erat-erat dan merasakan sensasi pelukan dinginnya yang menjalar ke seluruh tubuhku. Aku ingin terus berdiri dibawah rinainya yang membuat gigil. Membiarkan diriku diserbu jarum-jarum basah, menikmati merdu kecipak air diantara telapak kaki yang melompat-lompat dengan ritmis.
Tapi semenjak hujan datang hampir tiap hari, malam kehilangan cahaya terang. Mungkin bintang-bintang takut pada hujan. Mungkin mereka kedinginan di atas sana sehingga sejenak bersembunyi menghangatkan diri entah di pojok langit yang mana. Karena kalau tidak begitu, mereka bisa masuk angin nanti. Terkadang aku masih bisa melihat gemintang itu di subuh hari. Dan satu-satu nya rasi yang bisa ku kenali adalah scorpio. Yah, ini lebih karena aku tidak tahu banyak tentang bentuk dan nama keluarga rasi bintang. Tapi itu tak menyurutkan langkahku untuk tetap menyukai dan menanti kedatangan mereka segera setelah rehatnya mentari. Walau aku tahu, harapan menemui mereka saat hujan adalah semu.

Sebenarnya
hanya ada satu masalah falsafati yang benar2 serius, yakni bunuh
diri. Menilai bahwa hidup ini layak atau tidak layak dijalani: itulah
menjawab pertanyaan dasar filsafat…. Saya
melihat, banyak orang mati karena mereka merasa bahwa hidup ini tidak
layak dijalani. Jadi saya menilai bahwa makna hidup adalah pertanyaan
yang paling mendesak…. Membunuh diri adalah semata-mata mengakui
bahwa "hidup sudah tidak layak dijalani". Tentu saja,
hidup tidak pernah mudah….. (Albert Camus dalam Mite Sisifus).
Camus
sangat penasaran dengan makna hidup, sebagaimana juga kita. Kita
kerap mempertanyakan tiga pertanyaan utama yang selalu menghantui
hari2 kita. Darimana saya ada? Untuk apa
saya ada? Kemana saya setelah mati? Halooo!!! Adakah yang sudah
mendapat jawaban atas pertanyaan2 esensial ini? Well, kita harus
menggunakan perangkat otak untuk menjawabnya kan? Dan
jawaban atas pertanyaan2 ini harus bisa memuaskan akal. Harus bisa
menenangkan jiwa. Tapi juga harus sesuai dengan kodrat kita sebagai
manusia. Hmm…. harus memuaskan akal yah? Let’s see, akal selalu
meminta bukti eksistensi. Keber-ADA-an. Nggak mungkin ada tempe
goreng di atas meja kalo nggak ada yang membuatnya ada. Betul, tidak?
*Aa’ Gym MODE ON*. Nah, kalo ada yang bilang tempe itu ada begitu aja
diatas meja, apa kalian percaya??? (Saya harus merasa kasihan pada
yang jawab percaya. Kasiannnnn de lu….). Pasti ada significant
others yang membuatnya ada di sana. Tempe goreng aja ada penyebabnya,
gimana dengan alam semesta beserta isinya yang luar biasa kompleks
ini? Apakah mungkin dia ada begitu saja tanpa ada yang meng-ADA-kan
nya? Kalau ada yang bilang dunia ini tercipta karena benda langit
yang berbenturan keras sekali kemudian mulai membentuk dirinya
sendiri, maka saya ajukan pertanyaan, darimana kah benda langit yang
berbenturan tadi berasal? (Hehehe… senyum kemenangan :D). Okeh,
akal kita menyetujui kenyataan tersebut. Kita sudah yakin kalo alam
semesta ini ada yang menciptakan. Dengan begitu, manusia seperti kita
ini berarti ada yang menciptakan. Kemudian timbul satu pertanyaan
lagi, siapa yang menciptakan kita? Untuk gampangnya, mari kita sebut
Dia sebagai TUHAN. Karena jelas Dia berbeda dengan manusia yang punya
sifat serba terbatas.
Pencarian
kita dimulai dari gerombolan orang yang bersujud di depan patung2
bermacam bentuk. Mungkin kah berhala2 ini adalah Tuhan yang kita
cari2? Hmm… sedetik kemudian otak kita berkontraksi, Tuhan nggak
mungkin selemah itu. Masa Dia bahkan nggak bisa ngusir nyamuk yang
nemplok di idungnya. Kita terus berjalan… Angkasa menampilkan
kemegahan yang luar biasa. Aha! Matahari! Pasti Dia lah Tuhan.
Matahari begitu terang benderang dan menakjubkan. Tapi kemudian malam
datang dan Matahari menghilang. Giliran Bulan yang datang. Matahari
digantikan Bulan. Pasti Bulan adalah Tuhan! Euphoria menyelimuti jiwa
kita. Tapi sebentar kemudian otak kembali menegang. Berpikir…
berpikir… Mana mungkin Tuhan terbit tenggelam seperti itu? Huaaa!!!
Siapakah Tuhan sebenarnya???
Tengah
berpikir dan terjebak dalam pergulatan pemikiran, ada yang datang
membawa cerah dan berkata: Tuhan itu tiga dalam satu dan satu dalam
tiga. Layaknya segitiga sama sisi yang ketiga sisinya sama belaka,
walaupun ada tiga sisi tetap saja segitiga. Aduuhh…
pusinggggggg…. gimana nih? Gimana nanti kalo ada yang bilang bujur
sangkar ada empat sisi dan Tuhan ada empat tapi satu? Tuhan ada
tiga??? Otak langsung membayangkan, tiga Tuhan yang saling bercakap2:
Tuhan
A: "Gimana nih woi?! Orang2 di negri itu kudu diberi pelajaran
dan ujian. Kita kasi gempa bumi en badai tsunami besar, ok?"
Tuhan
B: "Wah, saya nggak setuju! Kita ini pengasih. Kita nggak bisa
ngasi bencana alam begitu ke para manusia!
Tuhan
C: "Hmmm…… No comment…."
Tuhan
A: "Nggak bisa begitu dong. Kita kan Tuhan, kita harus
menunjukkan Kuasa kita. Manusia2 itu harus belajar dari ujian yang
ditimpakan pada mereka!"
Tuhan
C: "Hmmm……."
Tuhan
B: "Arghhh…. Pokoknya saya nggak setuju. Nggak bisa itu. Kita
nggak boleh memberi penderitaan pada manusia. Udah capek2 berkorban
lewat penyaliban, masa’ mau kita bikin merana. Nggak! Pokoknya
NGGAK!" *sambil tereak2*
Tuhan
A: "Heh! Pokoknya besok saya akan timpakan gempa bumi, gunung
meletus, tsunami dan segala macam bencana alam. TITIK!"
Tuhan
C: "Hmmmm…."
Tuhan
A dan B: *udah pada keluar taring, tumbuh tanduk, pasang kuda2, siap2
berantem. Tuhan A mbikin gempa bumi yang dahsyat. Eee… Tuhan B
serta merta menghentikan gempa. Tuhan C dengan cool, diam membisu dan
sesekali mengeluarkan "Hmmmm…" – nya. Sementara itu di
Bumi, manusia heran menyaksikan bumi yang sebentar gempa tapi sedetik
kemudian berhenti. Tak lama kemudian gunung berapi bersendawa, tapi
sedetik setelah itu gunung menelan kembali lahar yang baru
dikeluarkannya. Di surga, para setan pers memburu Tuhan-Tuhan. Cek n
Ricek n Cek Lagi, mengadakan wawancara eksklusif dengan Tuhan C yang
paling gampang dihubungi. Tapi seperti Desy Ratmasari, Tuhan C Cuma
menjawab: No comments……
Di
tengah keliaran imajinasi dan kontraksi otak yang tidak menyetujui
konsep serba tiga itu, kita terus mengindera realita. Manusia,
kehidupan, dan alam semesta ini ada ujungnya. Ada batasnya. Manusia
akan tumbuh sampai batas2 tertentu dimana ia tak lagi bisa berkembang
dan kemudian menemui batas akhirnya; kematian. Demikian juga hidup,
yang akan bermuara pada kematian. Semua yang serba terbatas ini pasti
diciptakan oleh "sesuatu yang lain". Sang Pencipta, yang
menciptakan manusia, kehidupan, dan alam semesta. Dan apakah Sang
Pencipta ini diciptakan oleh yang lain? Atau apakah Dia menciptakan
dirinya sendiri? Atau Ia bersifat tidak berawal dan tidak berakhir
dan wajib adanya? Kemungkinan pertama tidak dapat
diterima akal. Masa’ Dia diciptakan? Berarti Dia punya sifat terbatas
dong? Nggak bisa, nggak bisa. Kemungkinan kedua, Dia menciptakan diri
sendiri. Arghhh…. nggak mungkin. Berarti statusnya jadi makhluk dan
pencipta dalam satu waktu? Nggak mungkin ah. Dia harus bersifat tidak
berawal dan tidak berakhir dan wajib adanya. Karena Dia adalah Sang
Pencipta. Karena Dia adalah Allah SWT.
Kita
diajak untuk bumbata (buka mata buka telinga) terhadap benda2 yang
ada, mengamati, menganalisa benda2 dan keadaan di sekitarnya untuk
dapat membuktikan adanya Allah SWT. Dengan pengamatan tersebut, kita
bisa tahu bahwa benda2 ini saling membutuhkan dan akan memberikan
suatu pemahaman yang meyakinkan dan pasti akan adanya Allah Yang Maha
Pencipta lagi Maha Pengatur.
"Dan
diantara tanda2 kekuasaan-Nya adalah diciptakan-Nya langit dan bumi
serta berlain-lainannya bahasa dan warna kulitmu." [Q.S. Ar-rum:
22]
"Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi. Silih bergantinya malam dan siang.
Berlayarnya bahtera di laut yang membawa apa yang berguna bagi
manusia. Dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu
dengan air itu Ia hidupkan bumi sesudah matinya. Dan Ia sebarkan di
bumi itu segala jenis hewan. Dan pengisaran air dan awan yang
dikendalikan antara langit dan bumi. Sesungguhnya terdapat
tanda-tanda (Keesaan dan Kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan."
[Q.S. Al-Baqarah: 164].
Setelah
kita mendapat jawaban bahwa ada Allah sebagai Pencipta dan Pengatur
dunia ini, maka kita bisa dengan mudah menjawab pertanyaan "Darimana
saya ada? Untuk apa saya ada? Kemana saya setelah
mati?" Pertanyaan pertama berhubungan dengan penciptaan. Manusia
berasal dari Allah. Kita diciptakan oleh-Nya. Lalu, untuk apa hidup
ini? Untuk apa saya ada? "Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan
manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.: [Q.S. Adz-dzariyat: 56].
Kehidupan di dunia ini adalah satu episode singkat dari perjalanan
hidup kita untuk beribadah pada-Nya. Satu episode penting yang
menentukan perjalanan kita selanjutnya; ke tempat yang akan kita tuju
setelah mati. Hidup di dunia adalah untuk beramal, berbuat, untuk
kemudian menuai hasil yang sudah kita tanam di kehidupan akhirat yang
tidak terbatas. Karena semua yang kita lakukan, harus kita tanggung
konsekuensinya.
Bukankah
pertanyaan tentang makna hidup terjawab sudah? Andai
semua manusia sadar akan posisinya dan apa esensi hidup ini, tentunya
bunuh diri tidak akan terjadi. Karena hidup terlalu singkat, dan ada
banyak yang bisa kita lakukan. Waktu hidup terlalu berharga untuk
disia-sia kan. Hidup ini, sangat layak untuk dijalani. Dengan baik
dan benar.