Archive for February, 2006

Sebuah Tanda Tanya Besar

Tanya


Pernahkah kalian mendengar atau membaca tentang Sybil? Gadis yang punya banyakkepribadian dalam dirinya. Saya membaca kisah nyata yang ditulis Flora Rheta Schreiber ini pada semester awal perkuliahan saya. Waktu saya masih sangat berminat pada psikologi abnormal dan psikopatologi. Buku itu seperti bacaan wajib yang tidak masuk dalam daftar referensi kuliah. Tapi kalau anak psikologi sampai belum pernah membaca atau minimal mendengar tentang Sybil, maka status nya perlu dipertanyakan (iya nggak sih?). Well, bukan apa-apa, kasus multiple personality yang diekspos masih sangat jarang. Baru-baru ini saya membaca buku berjudul "24 Kepribadian Billy". Dari judulnya tentu sudah dapat ditebak buku ini tentang apa. Yupz! Bener banget. Tentang Billy yang punya 24 kepribadian :D.

Billy hidup bersama 23 "orang" dalam dirinya. Billy sering kali kehilangan orientasi akan waktu dan tempat. Kadang ia sadar dirinya sedang melukis di kamarnya, tapi kemudian ia sudah berada di tempat lain dengan pakaian yang berbeda tanpa ia ingat kapan ia pergi, kapan ia berganti pakaian. Yah, semacam itu lah. Yang paling parah, kepribadian-kepribadian dalam diri Billy juga melakukan tindak kriminal tanpa Billy sendiri pernah sadari. Tidak tanggung-tanggung, tiga orang mahasiswi jadi korban. Mereka diculik, diperkosa, kemudian di rampok. Billy ditangkap dan dipenjara untuk kemudian diproses ke pengadilan.  Tapi kemudian Billy dibebaskan atas dasar kegilaan.

Billy mulai dirawat. Ternyata ada "orang-orang" yang menguasai tubuh dan pikiran Billy. Arthur, berkebangsaan Inggris yang paling pintar di antara mereka semua. Ragen, si kuat dari Yugoslavia. Reaktif dan paling diandalkan dalam keadaan berbahaya. David, anak laki-laki berumur 8 tahun. Menyerap rasa sakit yang diderita tokoh lainnya. Allen, yang biasanya berhadapan dengan orang luar. Adalana, lesbian kesepian yang"memakai" tubuh Billy dalam kasus perkosaan itu. Masih ada 19 kepribadian lain yang bersembunyi dalam tubuh Billy. Mereka keluar apabila situasi memungkinkan mereka untuk tampil di tempat utama, sebutan untuk posisi publik. Bisakah kalian bayangkan hidup dengan 24 kepribadian dalam satu tubuh. Tidak tahu mengapa suatu hal bisa terjadi. Mengapa berada di tempat ini. Apa yang terjadi pada diri sendiri. Ditangkap, karena kesalahan yang sama sekali tidak disadari?

Sulit sekali untuk menyatukan kembali kepribadian2 ini. Seperti tidak cukup saja satu kepribadian dalam dirinya ya? Well, bukan kemauannya dia sampai "terganggu" seperti itu. Billy pernah mengalami pelecehan seksual dan penganiayaan yang dilakukan oleh ayah tirinya waktu dia kecil dulu. Dan ini lah awal dari pembentukan kepribadian2 dalam diri Billy. Sebuah mekanisme pertahanan diri yang bisa "menyelamatkan" Billy. Sebagai perbandingan, ada juga novel karangan Marry Higgins Clark tentang kepribadian ganda ini. Judulnya "All Around The Town". Tokoh utamanya adalah seorang gadis yang semasa kecilnya dulu pernah mengalami hal yang juga dialami Billy. Gambarannya seperti ini. Si gadis yang waktu itu masih balita diculik dan dilecehkan secara seksual. Bukan Cuma sekali. Tapi berkali-kali. Selama berbulan-bulan. Gadis ini kemudian memutuskan untuk "tidur". Pada saat ia "tidur", ada tokoh yang diciptakannya untuk menggantikan posisinya saat itu. Jadi si gadis "terhindar" dari perbuatan keji itu. Tokoh yang diciptakannya lah yang menanggung penderitaannya. Agak rumit ya?

Setelah mendapat perawatan intensif, keadaan Billy membaik. Tapi tidak dengan kondisi masyarakat. Masyarakat tidak mau menerima kenyataan bahwa Billy "sakit". Media juga membuat situasi semakin parah. Billy bukan orang yang tegar, tapi ia berusaha untuk itu. Tapi pemberitaan yang memojokkan posisinya membuat kondisi psikis nya memburuk. Billy yang sudah mulai terfusi, terpecah lagi. Saya pun bertanya-tanya, apakah kita, manusia memang begitu. Sulit memberi kesempatan kedua. Selalu dipenuhi ketakutan-ketakutan dan kekhawatiran-kekhawatiran. Coba saja liat para eks napi. Eks PSK. Apa mereka bisa dengan mudah mendapat kepercayaan masyarakat? Kadang malah orang2 yang sudah punya niat untuk nggak mengulangi perbuatannya terpojok oleh reaksi masyarakat dan stigma-stigma miring yang terlanjur melekat kayak plester obat yang direkat terlalu erat. Bahkan udara susah sekali menembus kulit jadinya.

Back to the story, ceritanya panjang. Tapi buku ini bagus sekali. Jadi kalau lewat toko buku dan menemukan buku berjudul: "24 Kepribadian Billy" yang ditulis oleh Daniel Keyes, jangan ragu untuk membaca nya.

Apa Artinya Gila

Nggak cuma satu dua orang yang bilang saya aneh. Walopun saya nggak bisa liat "keanehan2" itu dan nganggep apa yang menurut orang laen aneh adalah wajar2 saja. Masak "melihara" (kalo ada Ida pasti langsung protes: "Yoan, taneman itu di TANEM, bukan di PELIHARA! Kalo binatang, iya lu pelihara *sewot MODE ON*) taneman di pot yang ditaro di ambang jendela dibilang aneh? Ada lagi yang bilang selera saya aneh. Masa’ suka baca buku2 berbau filsafat dibilang aneh? (suka baca kan belom tentu ngerti, hehehe. Saya suka aja, soalnya abis baca buku2 itu saya jadi pusing trus akhirnya ngantuk :D. Semakin saya berusaha mengerti, semakin saya nggak paham. Aneh… Naa! "Aneh" lagi kan frase yang dipake). Yah, emang sih apa yang dianggep aneh sama satu atau sekelompok orang bisa dianggep normal2 aja sama yang laennya. Ini "Cuma" masalah standarisasi aja. Contohnya jilbab. Bagi non-muslim, aneh aja kan liat para muslimah pake baju panjang kegedean. En kayak belom cukup, masih ditambah kerudung yang nutupin kepala sampe ke dada. Nggak panas apa? (panasan di neraka, wee’ :P). Trus ada lagi yang bilang nggak modis lah apa lah. Ih, bener kan masalah standar. Buat muslimah sih pake jibab itu normal2 aja. Bukannya itu kewajiban? (nggak pecaya itu wajib? Coba liat Surat Al-Ahzab ayat 59 en An-Nur ayat 31)..


Sama juga kayak klasifikasi normal – abnormal di bidang psikiatris. Orang2 yang kita – manusia yang ngerasa normal – anggep gila adalah orang2 yang melakukan perilaku2 aneh yang gak biasa dikerjain sama orang kebanyakan. Joget2 di pinggir jalan sambil nyanyi gak jelas dengan baju compang – camping. ‘Melihat’  apa yang orang kebanyakan nggak bisa liat, en banyak lagi perilaku2 ‘gila’ lainnya. Tapi kalo aja, besok pagi kita bangun dan di seluruh dunia ini terjadi perubahan paradigma besar2an dimana semua orang sepakat kalo apa yang selama ini kita klasifikasikan sebagai ‘gila’ adalah normal, keadaan tentunya berbalik. Orang2 yang selama ini dianggap ‘gila’ menjadi ‘normal’ dan yang selama ini mencap dirinya ‘normal’ ternyata gila. Itulah kekuatan massa. Dusta terbesar yang di rumorkan secara terus-menerus sebagai kebenaran, akan jadi kebenaran.


Seperti temen2 saya yang sangat heran waktu nonton Virgin. Mereka bertanya2 kok bisa ya, anak2 SMA ngejual dirinya begitu. Kok bisa mereka asik clubbing begitu. Kok bisa2 nya cewek2 ABG itu pada ngerokok. Aneh. Ya, kita kayak idup di dunia yang berbeda. Di sini kita biasa dengerin murattal sebagai pengiring aktivitas. Di sana orang2 pada dengerin musik berdentam2 yang bikin perut mual2 sambil jumping2 kayak kuda lumping. Di sana sex bukan lagi barang ‘tabu’ dan bisa dengan gampang dilakukan dimana aja kapan aja sama siapa aja. Di sini kita terheran2 kenapa mereka nggak bisa (atau nggak mau) jaga harga diri dan kehormatan mereka sebagai perempuan. Dan ini smua berhubungan langsung dengen prinsip yang dipegang sama individu. Buat sebagian orang, pacaran, pegangan tangan, pelukan, dkk, itu wajar2 aja. Mereka boleh berpendapat: "Jaman udah berubah. Apa yang tabu jaman dulu, sekarang udah jadi kewajaran yang normal". O yeah, jaman emang udah berubah. Tapi bukan berarti prinsip dan nilai2 yang kita usung ikut berubah. Tinggal sekarang kita tetapkan prinsip dan ideologi apa yang bakal jadi penuntun hidup yang gak gampang ini. Dan kemudian kita bisa katakan, kalo yang dibilang normal adalah korupsi, maka berbanggalah dibilang tidak normal karna nggak korupsi. Kalo yang dibilang normal adalah sex bebas, maka berbanggalah dibilang GILA karna menentang keras perilaku itu. Sekali lagi, karna saya seorang MUSLIM, maka standar yang saya pake adalah standar Allah. Peduli apa dengan standar manusia yang "cuma" ciptaan Allah!

Kopi Urine

Coffee

Haaa… ternyata begitu ya. Pantes aja.

Saya suka minum kopi. Saya tau sih kopi nggak terlalu baek buat kesehatan. Tapi gimana ya, enak sih ^_^. Nah, tiap abis minum kopi pasti kepengen pipis. Produksi urine berlebihan. Katanya kafein dalam kopi itu punya sifat diuretics yang memperlancar urine dan keringat. Kalo yang itu sih saya udah tau. Tapi ternyata senyawa diuretics itu bikin orang jadi makin sering laper. Haaaa…. pantesan abis minum kopi mesti laper banget. Buat penderita diabetes, kopi ataw minuman/ makanan yang mengandung kafein ini nggak bagus banget. Kafein memperparah penderitaan karena orang diabetes sudah jelas lebih laper dari orang biasa. Apalagi buat anak kos, bener2 penderitaan deh. Karna berarti pengeluaran ekstra buat beli makanan gara2 sering laper. Wah, aer putih emang paling yahud deh. Tanpa efek samping! Hidup aer putih! (apaan sih?). Walo kafein itu memberi efek stimulant penambah semangat, tapi juga menyebabkan kambuhnya sakit asam lambung, rasa gugup berlebih, en mempercepat kerja jantung. Pantesan, saya sering deg-deg an abis minum kopi. Haaaa… ternyata begitu ya (hmmm… udah berapa kali saya pake kata ‘ternyata’ dan ‘pantesan’?).

Menghadapi Kutukan

Percaya nggak percaya, jauh sebelum hari ini kita sudah diperingatkan oleh Baginda Rasul. Dan karena kita mengabaikan peringatan2 beliau maka tiba saatnya kita menghadapi "kutukan". Rasul pernah bersabda bahwa kita akan diuji dengan beberapa hal, salah satunya: "Tidaklah menjalar pelacuran pada suatu kaum sehingga dilakukan secara terang-terangan melainkan akan menjalar pula pada mereka wabah, tha’un, dan berbagai penyakit yang tidak pernah terjadi pada nenek mereka dahulu" (HR. Ibnu Majah & Al-Hakim). Nah lo! Kena kita. Kalo Rasul masih idup mungkin beliau akan bilang : "Kan I told you, man!" (kayak iklan :D). Tapi kita terlalu congkak untuk mengindahkan peringatan itu. Sekarang setelah banyak bukti terpampang di depan hidung pun, masih banyak yang terlalu bebal untuk sadar. Bahwa kehidupan ini seharusnya bisa lebih baik kalau kita berpegang teguh pada agama Allah. Apa lagi sih, yang kurang? Islam sudah mengatur segalanya. Dari peribadatan sampai pemerintahan. Dari pendidikan sampai perekonomian. Allah Maha Besar. Dia sangat mengenal ciptaan-Nya, maka telah pula Ia ciptakan aturan untuk menjaga keseimbangan bumi tempat hidup manusia ini. Saya Cuma heran, apa susah sekali sih menjalankan syariat Allah itu? Bukankah Allah tidak akan membebani seseorang melainkan menurut kemampuannya? *geleng2 kepala sok mikir*

I’m In A Happy

Alhamdulillah…Alhamdulillah… Segala puji bagi Mu ya Allah…. Akhirnya, judul skripsi diterima juga. Setelah ganti tiga kali, yang terakhir direstuin juga sama Ibu. Oohh Ibu ku… I lope yu deh.

Walo BAB I nya masih harus dirombak en ditambah2in lagi, tapi saya rela karna akhirnya saya punya fokus juga. Waaaaaaaaaa!!!!! syenengnya….. Dan tahukah apa yang terjadi kalo orang lagi syeneng? Ya, dia akan senyum2 sendiri di jalan. Senyum nya bahkan meningkat jadi cengiran nggak jelas dan kalo dia ketemu sama orang yang di kenal di jalan, maka, YA! dia akan tertawa gembira sampai temannya heran. Hehehe…. saya begitu tuh :D

Mental Kecoak

Kecoak

Apa yang ada dipikiranmu ketika mendengar kata KECOAK? Jijik? Sebal? Tapi, kecoak bagi saya adalah hewan kecil menakjubkan. Bagaimana tidak, ia berhasil survive. Bertahan hidup di segala situasi dan kondisi. Kecoak bisa hidup di tempat yang bersih. Kecoak juga nyaman-nyaman saja hidup di kamar mandi atau dapur yang kotor. Satu lagi yang membuat saya kagum, semangat hidupnya yang sangat tinggi. Tahukah kalian, tanpa kepala, kecoak bisa bertahan hidup seminggu lebih!!! Sebelum dia mati karena kelaparan. Amazing, huh?

Saya yakin, sebagian kita yang jijik atau bahkan benci pada kecoak pernah berusaha mengusir atau membunuh hewan kecil ini. Saya juga pernah (semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya). Dan saat itulah saya dibuat terbengong dan takjub. Kecoak itu diam saja ketika saya menghentak-hentakkan kaki untuk mengusirnya. Pun ketika saya menggeser badan kecilnya itu dengan sapu. Akhirnya, dipenuhi dendam yang membara, saya mengambil sendal jepit dan memukulkan karet keras itu ke tubuh kecok yang tidak tau apa-apa itu. Selesai memukul saya sumringah karena merasa menang atas kecoak itu. Sendal jepit saya biarkan di atas tubuh tak berdaya sang kecoak. Akan tetapi, hei! Apa itu yang bergerak-gerak menandakan kehidupan. Sendal jepit itu bergerak saudara-saudara! Sejenak otak saya berpikir mungkinkah arwah kecoak  itu merasuk pada sendal jepit yang telah menghabisi nyawanya? Tapi pikiran aneh ini langsung di tepis oleh sisi akal saya yang masih sehat. Tidak mungkin itu! Tapi sendal itu masih bergerak perlahan.

Penasaran, saya angkat sendal jepit tadi. Dan saya mendapati kecoak yang saya kira sudah menghadap Rabb nya itu, menggeliat (atau tampak seperti itu) dan berusaha bangkit. Saya tercekat. Apa yang telah saya lakukan? Bukankah kecoak ini tidak melakukan perbuatan yang merugikan bangsa macam KKN atau menaikkan harga BBM dengan semena-mena seperti yang dilakukan pemerintah saat ini? Tapi saya telah menyiksanya. Maka saya pun beristighfar dan berharap kecoak tadi memaafkan saya dan tidak menuntut saya di akhirat kelak.

Dari sang kecoak saya belajar untuk terus berusaha bahkan dibawah tekanan. Dari sang kecoak saya belajar untuk tidak mudah putus asa. Dari sang kecoak saya belajar untuk bisa hidup di segala situasi. Dari sang kecoak pula, saya belajar untuk bangkit dari keterpurukan.

Ada banyak peristiwa yang bisa kita ambil hikmahnya. Ada banyak hal yang kita anggap kecil yang ternyata bisa kita ambil pelajaran darinya. Hatta tentang seekor kecoak. Yang perlu kita lakukan hanyalah membuka mata dan membuka pikiran kita terhadap segala kemungkinan yang bisa terjadi. Berhenti menganggap suatu hal atau seseorang itu kecil. Dan berusaha mengambil pelajaran yang deiberikan alam bagi kita.

Semoga kita tergolong dalam kelompok hamba-Nya yang mau berpikir dan mensyukuri nikmat-Nya. Amien.