Archive for March, 2006

Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Tersedu

Pilar adalah seorang wanita biasa yang menjalani hidup yang biasa-biasa saja. Ia bekerja sebagai pramuniaga untuk membiayai kuliahnya yang hampir selesai. Sebentar lagi ia akan menikah dengan entah siapa, menetap, dan memiliki anak. Sampai suatu ketika, seorang sahabat masa kecilnya berkirim surat minta bertemu di Madrid, dimana ia menjadi pembicara dalam sebuah seminar.

Pertemuan itu membangkitkan ingatan masa kecil Pilar. Selama belasan tahun lebih, laki-laki sahabatnya itu ternyata tak melupakan cintanya pada Pilar. Semula Pilar ragu. Ia tidak menginginkan kehidupan berpindah yang telah dilalui sahabatnya. Sementara Pilar bertarung dengan keinginan ‘berakar’ atau ‘terbang’ bersama sahabatnya yang ternyata seorang murid seminari, lelaki itu juga bertarung dengan hati dan takdirnya.

Pilar mendapati fakta mencengangkan bahwa ternyata lelaki itu memliki kemampuan untuk menyembuhkan penyakit dan semakin sadar bila ia memutuskan untuk mendampingi lelaki itu, maka ia tidak bisa tinggal dengan rutinitas lamanya. Penerimaan yang aneh melingkupi Pilar. Ia ikut dalam praktek-praktek religius bersama lelaki sahabatnya itu. Pilar menyadari imannya telah kembali, walaupun ia masih kabur dengan ide bahwa Tuhan mempunyai sisi feminin-yang diyakini oleh lelaki itu dan seluruh anggota sekte. Kenyataannya, Sang Dewi-sebutan untuk sisi feminin Tuhan-lah yang menganugerahi kemampuan menyembuhkan pada lelaki itu.

Pilar memutuskan untuk menerima cinta lelaki itu-berikut tanggung jawab yang diembannya-karena mungkin seminari bukan satu-satunya tempat untuk melayani Tuhan. Bumi terbentang luas dan disanalah mereka akan mengabdi. Ia memutuskan untuk mendampingi kekasihnya, menguatkan langkah lelaki itu dan bersama mengukir sejarah. Tetapi lelaki itu membuat keputusan lain. Ia minta kekuatan penyembuh itu ditarik agar ia dan Pilar bisa hidup ‘normal’. Pilar tidak bisa menerima keputusan itu. Ia mulai berlari menjauh-dikejar-kejar oleh serombongan orang-orang sakit yang akan mati, keluarga-keluarga yang akan menderita, mukjizat-mukjizat yang takkan terjadi, banyak senyuman yang tak lagi menghiasi dunia. Pantaskah ia menjadi penyebab semua ini?

Pilar ditemukan di pinggir jalan, hampir mati beku. Ia dirawat di biara dekat Sungai Piedra. Disanalah ia menuliskan kepedihannya, berharap aliran sungai bisa membawa jauh sakitnya. Berhari-hari yang dilakukan Pilar hanya duduk dan tersedu di pinggir sungai sambil menuliskan kisahnya. Sampai suatu hari, ia mendengar bunyi klakson mobil. Pilar mendengar langkah kaki mendekat walau masih tak percaya. Tapi hatinya berkata bahwa yang terburuk telah berlalu meski kesedihan tetap tinggal. Lelaki itu mengajaknya bicara tapi Pilar membisu, ia hanya terus menulis sampai tak ada lagi yang bisa ditulisnya. Mereka sudah duduk diam sepanjang hari dan akhirnya lelaki itu bicara lagi tentang perasaannya, betapa ia akan terus mencintai Pilar dan cinta Pilar telah menyelamatkannya dan mengembalikannya pada mimpinya. Jalan telah dipilih dan mereka akan melaluinya berdua, berusaha menemukan kembali karunia Sang Dewi dan melupakan kehidupan biasa.

Seseorang yang mencintai selalu mendorong kekasihnya untuk meraih mimpi, bukan memaksanya melupakan mimpi dan ‘hanya’ hidup dalam semu nya realitas.

[Dari: Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Tersedu - Paulo Coelho]


hanya aksara tanpa makna
tertatih meyusuri keramaian jalan-jalan kota
melonjak-lonjak mencari tahu gerangan apa
sebab hidup manusia begitu berharga

Kerjaannya Setan

Jaaannnn…. Ancene rodho mehong….

Kalo bukan karna sifat ceroboh en keburu2 tentunya nggak bakalan kejadian. Isin tuenan aku. Ceritanya lagi asik2 ngenet di warnet pinggir jalan yang rame sama bunyi motor dan kawan2 nya. Karna saya pikir lebih baek dengerin musik daripada dengerin polusi udara, saya segera menarik headphone yang tergantung manis di sekat pembatas singgasana maya kami. Saya tarik dengan lembut, kok nggak bisa. Saya tarik lebih keras, kok nggak bisa juga. Saya tarik2 itu headphone beberapa saat sebelum saya melihat kalo ternyata tu headphone bukan milik komputer yang saya pake, tapi lekat dengan CPU komputer tetangga!!! Dari kanan terdengar suara cekikikan Mas penjaga warnet dan penunggu komputer sebelah. Ya ampun, ternyata malu ya… saya sampe mikir untuk nggak bangkit2 dari duduk saya saking malunya.

Mikir2, saya kok ceroboh banget ya. Sering banget salah ngirim sms. Tadinya buat siapa, eeeee, nyampenya ke siapa. Padahal perasaan waktu saya nyari nama penerima sms, udah bener deh. Tapi waktu nerima status report, yang keluar malah nama orang laen. Sebel. Jadi harus kirim sms bwt minta map kan. Ngabis2in pulsa aja nih. Itu baru salah kirim sms, belum lagi berbagai kejadian memangkelkan dan (semi) memalukan lain yang terjadi gara2 kecerobohan saya. Bapak saya dulu punya gelar ’si pemecah gelas’ buat saya saking seringnya saya mecahin gelas di rumah. Tau ya, perasaan udah saya pegang erat2 kayak di lagu "Balonku ada lima" tapi kok masih tergelincir aja dari genggaman tangan. Kadang saya baru sadar kalo tu gelas udah lepas setelah Bapak saya negur: "Ai, gimana nanti kalo di rumah mertuanya itu". Biasanya sindiran Bapak saya itu saya jawab: "Yee, siapa juga yang mau tinggal di rumah mertua. Tinggal di rumah sendiri donk. Trus, ntar pake gelas plastik aja biar kalo jatoh beratus2 kali pun nggak pecah. Paling pada peot :p".  Tapi saya njawabnya dalem hati, hehehe.

Bener banget kali ya kalo ada yang bilang :"Terburu2 itu kerjaannya setan". Yah, walopun saya kasian juga ama setan yang bolak-balik dikambinghitamkan, tapi kayaknya ungkapan itu ada benernya. Setidaknya dalam kehidupan kita yang menganggap setan adalah hitam, jahat, dan tidak baik (emang ada setan yang baek, suka menolong, tidak sombong dan suka menabung?). Ngerasa nggak, kalo kita terburu2 tu ada aja yang ketinggalan. Ada aja yang salah. Ada aja yang nggak pas. Merujuk pada definisi setan diatas, maka nggak salah kalo terburu2 dianggep sebagai kerjaannya setan.

Nah, masalahnya sekarang adalah gimana caranya bisa lebih teliti, menghindari kecerobohan, dan kebiasan terburu2. Gimana coba? Ai, pusinglah.

KEEP REVOLT pokoknya mah

Wuaaaa!!!! Malang adem tuenan. Kalo inget cuaca di Lampung, jadi males balik. Pengen di Malang terus sampai akhir hidupku. Cieee… Pengen terus menikmati pemandangan Gunung Arjuno dan gunung Putri Tidur every single day. Hhhh… pokoknya sebelum balik ke Lampung saya harus jalan2 dulu. Saya harus ke gunung Arjuno, bukit Panderman en gunung Bromo lagi. Saya harus ke pantai Ngliyep en Balekambang lagi. Saya harus ke Coban Rondo, coban Talun, Coban Pelangi, en Coban Jae lagi. Eh ternyata, setelah di inventarisir banyak juga ya tujuan wisata saya. Berarti kudu nabung dari sekarang.

Aduh, nabung ya? Skripsi belum kelar nih. Untung dipinjemin printer. Jadi tinggal beli tinta ma kertas aja. Begitu aja duitna juga masih cepet abis. Pulsa juga sekarang udah jarang beli, jadi maap ya kalo ada yang sms tapi nggak dibales2 itu artinya saya belom  nemuin orang buat dimintain pulsa :p. Tapi senengnya ya, sering ada pulsa nyasar masuk begitu aja lho ke nomer saya. Tau2 dua puluh aja. Sebenernya kasian juga sih ama yang beli pulsa tapi nyasar, tapi mo gimana lagi. Maap banget ya, pulsa nya saya pake…. Kalo disuru ganti lumayan juga tu. Empat kali duapuluh tambah sepuluh tambah limapuluh. Brapa tu?

Bagi saya, salah satu pekerjaan paling sulit di dunia ini adalah menabung. Jeleknya saya tu gampang banget tergoda ama buku. Pokoknya kalo udah punya duit, ke toko buku, liat buku bagus, langsung bungkuuusss. Duitnya saya sisain buat makan doank. Sadar2 pertengahan bulan udah nggak megang duit lagi. Untungnya saya nggak terlalu suka belanja baju. Gimana ya, kalo duitnya dibeliin baju tu rasanya sayaaaang banget. Mending dibeliin buku. Kalo baju masi bisa dipake si saya pake aja, nggak perlu sering2 beli yang baru. Nggak perlu banyak2 punya juga punya baju. Tapi nih ya, yang lebih sakit lagi tu kalo pas lagi nggak punya duit pas ada bazaar buku. Sakiiiiiitttt….. hati ini ya Allah! Cuma bisa mupeng en numpang baca doank padahal seringnya buku2 itu di bungkus plastik kan. Ih, sebel banget dah. Tukang buku nya juga kayaknya sebel tu liat saya jongkok2 doank nggak beli2. Hehehe…..


+Hhhh… pokoknya harus belajar nabung!
- Kalo ada buku bagus gimana?
+ Wah, gimana ya?
- Gimana donk, beli ya?
+ Tapi kan harus nabung….
- Bukunya bagus banget nih. Rugi kalo nggak beli sekarang. Beli ya?
+ Gimana ya?
+ Iya deh….

Emang bener kalo ada yang bilang bahwa musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Bukan cuma masalah nabung, tapi juga bermacam masalah lain yang pernah kita alami mayoritas selalu menimbulkan pro kontra, minimal dalam diri kita sendiri. Foucault bener banget waktu bilang:
"Siapa melawan siapa? Kita bertarung melawan satu sama lain. Dan dalam diri kita, selalu ada sesuatu yang melawan sesuatu yang lain"

Pesan terakhir sebelum saya meninggalkan majelis, - seperti yang selalu diteriakkan teman-teman saya - KEEP REVOLT! Tetap melawan!, dimanapun engkau berada.

Dosen Saya Gila?

Tadi abis ketemu kakak tingkat. Terjadilah percakapan sbb:

SiMas: Hei! Semester brapa kamu sekarang?
Saya: *pura2 ngitung* Sepuluh, Mas
SiMas: *ketawa ngakak* ternyata kamu nggak lebih pinter dari saya, angkatan kamu berapa yang belom lulus?
Saya: *manyun* Banyak Mas. Yang udah lulus 15 orang, berarti yang belom ada 60-an. Mas udah lulus ya?
SiMas: Udah donk. Kabarnya, ada percepatan ya?
Saya: Sebenernya bukan percepatan sih, tapi pemberantasan. Pokoknya dari angkatan saya ke atas yang belom lulus itu dimudahkan sama fakultas. Bu Mahmudah aja yang katanya dulu susah, sekarang jadi enak.
SiMas: Bu Mahmudah itu bukan susah, gila dia itu.
Saya: *bengong* Kok gila sih Mas? Gak ilok sampeyan iki
SiMas: Bu Mahmudah kan? Iya, dia mah gila…..

Ih, si Mas. Padahal bliau kan dosen pembimbing saya. Emang sih, kalo denger kabar burung (kasian deh, burung2 sekarang pada dimusnahkan karna takut kena flu), Bu Mahmudah itu nggak sesuai dengan namanya yg "mudah" itu. Orangnya sulit, katanya kakak2 tingkat. Tuh, malah ada yang bilang bliau gila. Tapi slama saya bimbingan dengan bliau asik2 aja tuh. Emang agak susah ditemui, sibuk banget. Apalagi pas musim KHS, KPS- an kemaren. Tapi saya kemaren nyodorin BAB 2 langsung dikoreksi, trus disuru revisi secepetnya. Pake dinasehatin segala supaya cepet2, ujian nya bentar lagi soalnya.

Ah, whatever lah. Smoga setiap urusan kita dimudahkan Allah, ya…..