Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Tersedu
Pilar adalah seorang wanita biasa yang menjalani hidup yang biasa-biasa saja. Ia bekerja sebagai pramuniaga untuk membiayai kuliahnya yang hampir selesai. Sebentar lagi ia akan menikah dengan entah siapa, menetap, dan memiliki anak. Sampai suatu ketika, seorang sahabat masa kecilnya berkirim surat minta bertemu di Madrid, dimana ia menjadi pembicara dalam sebuah seminar.
Pertemuan itu membangkitkan ingatan masa kecil Pilar. Selama belasan tahun lebih, laki-laki sahabatnya itu ternyata tak melupakan cintanya pada Pilar. Semula Pilar ragu. Ia tidak menginginkan kehidupan berpindah yang telah dilalui sahabatnya. Sementara Pilar bertarung dengan keinginan ‘berakar’ atau ‘terbang’ bersama sahabatnya yang ternyata seorang murid seminari, lelaki itu juga bertarung dengan hati dan takdirnya.
Pilar mendapati fakta mencengangkan bahwa ternyata lelaki itu memliki kemampuan untuk menyembuhkan penyakit dan semakin sadar bila ia memutuskan untuk mendampingi lelaki itu, maka ia tidak bisa tinggal dengan rutinitas lamanya. Penerimaan yang aneh melingkupi Pilar. Ia ikut dalam praktek-praktek religius bersama lelaki sahabatnya itu. Pilar menyadari imannya telah kembali, walaupun ia masih kabur dengan ide bahwa Tuhan mempunyai sisi feminin-yang diyakini oleh lelaki itu dan seluruh anggota sekte. Kenyataannya, Sang Dewi-sebutan untuk sisi feminin Tuhan-lah yang menganugerahi kemampuan menyembuhkan pada lelaki itu.
Pilar memutuskan untuk menerima cinta lelaki itu-berikut tanggung jawab yang diembannya-karena mungkin seminari bukan satu-satunya tempat untuk melayani Tuhan. Bumi terbentang luas dan disanalah mereka akan mengabdi. Ia memutuskan untuk mendampingi kekasihnya, menguatkan langkah lelaki itu dan bersama mengukir sejarah. Tetapi lelaki itu membuat keputusan lain. Ia minta kekuatan penyembuh itu ditarik agar ia dan Pilar bisa hidup ‘normal’. Pilar tidak bisa menerima keputusan itu. Ia mulai berlari menjauh-dikejar-kejar oleh serombongan orang-orang sakit yang akan mati, keluarga-keluarga yang akan menderita, mukjizat-mukjizat yang takkan terjadi, banyak senyuman yang tak lagi menghiasi dunia. Pantaskah ia menjadi penyebab semua ini?
Pilar ditemukan di pinggir jalan, hampir mati beku. Ia dirawat di biara dekat Sungai Piedra. Disanalah ia menuliskan kepedihannya, berharap aliran sungai bisa membawa jauh sakitnya. Berhari-hari yang dilakukan Pilar hanya duduk dan tersedu di pinggir sungai sambil menuliskan kisahnya. Sampai suatu hari, ia mendengar bunyi klakson mobil. Pilar mendengar langkah kaki mendekat walau masih tak percaya. Tapi hatinya berkata bahwa yang terburuk telah berlalu meski kesedihan tetap tinggal. Lelaki itu mengajaknya bicara tapi Pilar membisu, ia hanya terus menulis sampai tak ada lagi yang bisa ditulisnya. Mereka sudah duduk diam sepanjang hari dan akhirnya lelaki itu bicara lagi tentang perasaannya, betapa ia akan terus mencintai Pilar dan cinta Pilar telah menyelamatkannya dan mengembalikannya pada mimpinya. Jalan telah dipilih dan mereka akan melaluinya berdua, berusaha menemukan kembali karunia Sang Dewi dan melupakan kehidupan biasa.
Seseorang yang mencintai selalu mendorong kekasihnya untuk meraih mimpi, bukan memaksanya melupakan mimpi dan ‘hanya’ hidup dalam semu nya realitas.
[Dari: Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Tersedu - Paulo Coelho]
hanya aksara tanpa makna
tertatih meyusuri keramaian jalan-jalan kota
melonjak-lonjak mencari tahu gerangan apa
sebab hidup manusia begitu berharga