Tahukah Kamu Rasanya?
Tahukah kamu rasanya sakit gigi? Saya tahu. Dan percayalah, sekali kamu merasakannya, kamu tidak ingin merasakannya lagi untuk yang kedua kalinya. Gigi berlubang itu tiba-tiba menjelma belati tajam yang menusuk-nusuk gusi tempat ia tumbuh. Seakan lupa seharusnya ia tumbuh ke atas bukan ke bawah. Gigi itu telah menjadi pagar makan tanaman yang menyebabkan sang gusi terpaksa meradang dan membengkak. Membuat pipimu bengkak dan wajahmu pun jadi seperti ikan balon terancam bahaya.
Pada saat kau tersiksa oleh sakitnya yang menjajah fisikmu, batinmu pun ikut didera. Sensitifitasmu akan suara meningkat. Derit engsel pintu membuatmu ingin mencabut saja pintu itu dari tempatnya berdiri (seolah-olah kau punya kekuatan untuk itu). Suara kucuran air dari keran membuatmu ingin menyedot habis air itu sampai ke sumbernya agar ia berhenti mengalir (bayangkan perutmu yang akan serta merta kembung sebelum kau sempat menemukan sumber airnya). Suara tawa dan obrolan orang di luar membuatmu sakit hati dan merasa sendiri. Sampai desis minyak goreng yang bersentuhan dengan tempe pun menjadi menyakitkan. Membuatmu merasa ingin tuli agar tidak terganggu suara-suara itu.
Perutmu lapar, tapi membuka mulutpun rasanya engkau tak sanggup. Kau paksakan saja nasi itu masuk, kau telan tanpa mengunyahnya apalagi sampai tiga puluh dua kali. Setelah itu, segala jenis obat-obatan ikut kau telan dengan harapan bisa terbebas dari sakit yang tidak lagi sanggup kau definisikan sepedih apa. Saat-saat seperti itu, rasanya ingin sekali memuja habis-habisan orang yang menciptakan isyarat anggukan dan gelengan sebagai pengganti kata "ya" dan "tidak". Saat-saat seperti itu, kau akan terkenang masa-masa gembira saat gigimu masih dalam keadaan normal. Kau sanggup tertawa sampai mulutmu menganga menampakkan langit-langitnya. Kau sanggup mengunyah makanan selembut bubur ataupun kue khas Maluku yang karena kerasnya bisa menyebabkan gigi seseorang patah seketika.
Saat-saat seperti itu, kau akan ingat segala karunia Tuhan yang telah diberikan cuma-cuma untukmu. Seketika tersadar, mungkin kau terlupa bersyukur. Mungkin pikirmu, semua ini sudah sepantasnya ku terima. Saat-saat seperti itu, kau akan membenarkan petatah-petitih yang menganjurkan kau mengingat lima perkara sebelum lima perkara: sehat sebelum sakit, lapang sebelum sempit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, hidup sebelum mati.
