Archive for April, 2006

Tahukah Kamu Rasanya?

Tahukah kamu rasanya sakit gigi? Saya tahu. Dan percayalah, sekali kamu merasakannya, kamu tidak ingin merasakannya lagi untuk yang kedua kalinya. Gigi berlubang itu tiba-tiba menjelma belati tajam yang menusuk-nusuk gusi tempat ia tumbuh. Seakan lupa seharusnya ia tumbuh ke atas bukan ke bawah. Gigi itu telah menjadi pagar makan tanaman yang menyebabkan sang gusi terpaksa meradang dan membengkak. Membuat pipimu bengkak dan wajahmu pun jadi seperti ikan balon terancam bahaya.

Pada saat kau tersiksa oleh sakitnya yang menjajah fisikmu, batinmu pun ikut didera. Sensitifitasmu akan suara meningkat. Derit engsel pintu membuatmu ingin mencabut saja pintu itu dari tempatnya berdiri (seolah-olah kau punya kekuatan untuk itu). Suara kucuran air dari keran membuatmu ingin menyedot habis air itu sampai ke sumbernya agar ia berhenti mengalir (bayangkan perutmu yang akan serta merta kembung sebelum kau sempat menemukan sumber airnya). Suara tawa dan obrolan orang di luar membuatmu sakit hati dan merasa sendiri. Sampai desis minyak goreng yang bersentuhan dengan tempe pun menjadi menyakitkan. Membuatmu merasa ingin tuli agar tidak terganggu suara-suara itu.

Perutmu lapar, tapi membuka mulutpun rasanya engkau tak sanggup. Kau paksakan saja nasi itu masuk, kau telan tanpa mengunyahnya apalagi sampai tiga puluh dua kali. Setelah itu, segala jenis obat-obatan ikut kau telan dengan harapan bisa terbebas dari sakit yang tidak lagi sanggup kau definisikan sepedih apa. Saat-saat seperti itu, rasanya ingin sekali memuja habis-habisan orang yang menciptakan isyarat anggukan dan gelengan sebagai pengganti kata "ya" dan "tidak". Saat-saat seperti itu, kau akan terkenang masa-masa gembira saat gigimu masih dalam keadaan normal. Kau sanggup tertawa sampai mulutmu menganga menampakkan langit-langitnya. Kau sanggup mengunyah makanan selembut bubur ataupun kue khas Maluku yang karena kerasnya bisa menyebabkan gigi seseorang patah seketika.

Saat-saat seperti itu, kau akan ingat segala karunia Tuhan yang telah diberikan cuma-cuma untukmu. Seketika tersadar, mungkin kau terlupa bersyukur. Mungkin pikirmu, semua ini sudah sepantasnya ku terima. Saat-saat seperti itu, kau akan membenarkan petatah-petitih yang menganjurkan kau mengingat lima perkara sebelum lima perkara: sehat sebelum sakit, lapang sebelum sempit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, hidup sebelum mati.

Karunia Mata

MataBagi saya, salah satu hal paling menakutkan di dunia ini adalah; menjadi buta. Saya tidak bisa membayangkan betapa sakit nya hati saya kalau tidak bisa lagi melihat hijau dedaunan dan rumpun ilalang. Betapa sakitnya hati saya ketika tidak lagi bisa melihat langit biru berselimut gumpalan-gumpalan putih awan. Betapa pedihnya hati saya bila saya tidak lagi bisa membaca buku-buku kesukaan saya atau menonton film kartun favorit tiap minggu pagi. Betapa sakitnya, bila saya tidak lagi bisa melihat wajah Ayah saya, Bibi, Paman, teman-teman dan semua orang terkasih dalam hidup saya. Ketika saya hanya bisa membayangkan, mengumpulkan ingatan tentang segala yang pernah saya lihat tanpa bisa lagi melihatnya.

Maka ketika kacamata saya pecah sehingga selama empat hari saya terpaksa melihat dunia dalam keremangan, semua ketakutan itu berlompatan dalam pikiran saya. Saya merasakan betapa tidak enaknya melihat dunia yang berbayang. Betapa banyaknya hal yang serta merta tidak dapat saya fahami langsung karena tidak bisa melihat jelas. Betapa saya harus menunggu sepuluh menit untuk memastikan tidak ada kendaraan lewat dalam radius tujuh meter sehingga bisa berani lari menyebrang. Kalau dengan kacamata saya bisa berjalan setengah berlari setengah melayang, maka tanpa kacamata saya harus benar-bernar berpijak pada tanah dibawah kaki bila tidak ingin tersandung tiap dua langkah. Dan sungguh tidak nyaman berbicara dengan orang berjarak satu setengah meter dihadapan tanpa bisa melihat jelas raut wajahnya. Saya seperti ngobrol dengan hantu muka rata.

Saya teringat surat dari teman-teman yang meminta saya menjadi pemateri training. Saya tidak mungkin membatalkan. Surat itu datang pagi sebelum insiden kacamata pecah, dan malamnya saya harus siap mengoceh tentang entah apa. Maka siang itu saya mengetik makalah singkat dengan penuh perjuangan. Benar-benar perjuangan. Jarak antara mata saya dengan keyboard mungkin kurang dari sejengkal. Sekali2 saya memeriksa hasil ketikan di layar monitor dalam jarak yang sama.  Selesai mengetik, saya hampir yakin minus saya akan bertambah dari 6,5 jadi minus 8.

Orang yang tidak (bisa) melihat ‘dunia’ dengan jelas kadang menumbuhkan prasangka. Seperti kita yang kadang tidak bisa melihat jelas mengapa sesuatu terjadi, mengapa seseorang berperilaku ‘beda’, dan berjuta mengapa yang bertebaran dalam hidup tanpa kita pernah tahu jawabannya. Seperti saya yang tidak bisa melihat senyum di wajah orang yang berpapasan dengan saya di jalan sehingga tetap memasang tampang ‘angker’ ketimbang balas tersenyum. Dan mungkin orang itu akan menyangka saya terlalu sombong untuk sekedar menganggukkan kepala tanpa ia tahu penyebabnya. Prasangka itu, terlanjur ada. Hanya karena kita tidak dapat ‘melihat’ jelas. Penglihatan, ternyata, adalah hal paling penting setelah bernafas bagi manusia seperti kita. Sudahkah kita bersyukur atas karunia mata yang tidak pernah kita minta tapi diberikan cuma-cuma oleh Allah SWT?

Missing Them So Much…

Huhuhu… abis ngimpi Mamah en Jimmy. Bangun tidur langsung berlinang air mata. Trus inget kalo sorenya abis liat pemandangan di ruang keluarga Ibu kos yang bikin iri: sekeluarga lagi berkumpul nonton tipi. Tambah seru deh acaranya (acara nangisnya maksudnya). Dah brapa lama ya nggak kumpul2 sekeluarga gitu? Hummm… dua belas taunan. Lama juga. Sampe lupa gimana rasanya kumpul2 sekeluarga. Kalo lebaran kemaen sih tiap ari kumpul ama keluarga. Soalnya keluarga inti tinggal Bapak ama saya aja. Pada abis smua. Lucu juga sih. Saya dulu aturnya lima besodara. Kakak pertama ninggal waktu masi bayi, trus saya lahir, abis itu Mamah ngandung lagi tapi nggak jadi (keguguran, gitu). Abis itu Jimmy lahir. Trus ada adek lagi tapi ninggal waktu masi bayi. Tinggal saya ama Jimmy. Eeehhh, waktu umur tiga belas Jimmy juga pergi. Delapan taun sebelum Jimmy, Mamah udah duluan. Tinggal saya ama Bapak deh yang masi bercokol di bumi ini. Ntar siapa duluan ya yang pegi, Bapak apa saya. Jadi penasaran…..

Kadang ngerasa iriiiii… banget kalo ngeliat Ibu kos sekeluarga lagi kumpul2. Pokoknya iri kalo ngeliat orang2 lagi kumpul sekeluarga. Kayak kemaren pas wisuda-an (saya nggak ikut wisuda, blom selese skripsinya). Orang tua nya temen akrab saya dateng, waktu Ibu nya nyium en meluk saya rasanya udah mau banjir aer mata aja. Saking lamanya ditinggal, saya sampe lupa rasanya dicium ibu. Huaaaaaaaa… nangis lagi deh….