Archive for June, 2006

Children …

"Kalau adik-adik ingin cantik, jangan tunggu di kasitau orang. Kakak punya mantra ajaib. Begini caranya, adik-adik pergi ke cermin, dan bilang begini: ‘Saya cantik—saya cantik—saya cantik—saya—cantik’, begitu. Kakak jamin, kalian semua pasti akan cantik-cantik. Sampai kapan pun. Selama-lamanya. Amin!"***


Anak-anak sangat mudah belajar. Mereka juga sangat mudah mengadaptasi hal-hal baru yang tertangkap indera. Dan membuat orang dewasa terheran-heran dengan apa saja yang bisa mereka katakan atau lakukan. Suatu hari ketika sedang asyik mengedit tulisan, tiga orang bocah menyerbu kamar saya sambil menyapa dengan ceria: "Mbak Yoaaaannn… lagi ngetik tho?" Saya tersenyum dan mengangguk. Saya teruskan kegiatan dan membiarkan bocah-bocah itu bermain-main. Permainan favorit bocah-bocah ini adalah menyembunyikan kotak kacamata dan memaksa saya menebak di mana tempat persembunyiannya. Ketika saya tidak berhasil menemukannya, mereka akan segera mengambil barang itu seraya tertawa puas penuh kemenangan.

Setelah beberapa saat memperhatikan saya mengetik, Ifa si bungsu bersuara: "Mbak Yoan putih ya…" Saya kaget, tidak bisa menebak ke mana arah pembicaraan kami bermuara. Kemudian dua kakaknya menyambung. "Iya, aku loh item." "Iya, aku juga."

Saya memandang mereka tak percaya. Ada urusan apa bocah-bocah berumur kurang dari enam tahun ini bicara soal warna kulit? Lalu saya putuskan untuk berkomentar, "Lho, nggak apa-apa kan kulitnya item asal hatinya putih."

"Mbak Yoan itu udah putih, jangan ngomong gitu!"

Saya tercekat. Ifa yang usianya baru tiga tahun bisa mengeluarkan kalimat itu? Saya buru-buru mengoreksi, "Maksud Mbak Yoan, kalo orang kulitnya putih tapi hatinya jahat kan lebih baek orang yang kulitnya item tapi hatinya baek, putih. Iya kan? Buat apa hayo, cantik tapi jahat? Memangnya Ifa, Pipit, Puput mau temenan sama orang jahat?"

Kepala-kepala kecil itu menggeleng. Setelah itu, seperti tidak pernah terjadi apa-apa, mereka kembali asyik menarik-narik sprei dan main ibu-ibuan.

Saya nggak bisa lupa. Saya masih terpana pada cara berpikir anak-anak ini. Benak saya langsung menunjuk satu tersangka: TELEVISI! Bahkan anak-anak kecil sudah teracuni puluhan propaganda dalam iklan dan sinetron yang tiap hari dikonsumsi tanpa filter. Ironis ya, kita mati-matian menjaga kesehatan. Anak-anak dilarang makan ini nanti batuk. Nggak boleh maen ujan-ujanan, nanti pilek. Tapi menonton televisi? Orang tua tenang-tenang saja. Padahal buat saya, televisi adalah bahaya laten yang lebih berbahaya dari komunis.

Teringat puluhan iklan produk pemutih yang membanjiri televisi. Ada satu iklan di mana seorang gadis dipandang sebelah mata oleh laki-laki yang disapanya di jalan. Gadis ini lalu melihat kulitnya yang gelap dan bersedih. Untunglah ada penyelamat, malaikat ganteng yang menghadiahinya sabun pemutih kulit. Setelah memakai sabun itu, abracadabra! Si gadis jadi putih dan tambah percaya diri. Rasanya ingin tertawa melihat gambaran itu. Apakah kepercayaan diri diukur dari keputihan (ups, istilahnya kurang tepat ya?) kulit? Apakah seorang yang kulitnya putih serta merta cantik? Satu lagi, untuk tahu kalau diri kita cantik, apakah harus menunggu ada orang yang mengatakannya di depan muka kita?

Saya teringat seorang  teman yang mati-matian berdiet supaya langsing dan disukai cowok-cowok. Can you believe that? Buat saya, kalau laki-laki itu memandang sebelah mata ketika dia masih berukuran besar dan tiba2 jadi suka ketika dia sudah langsing, berarti laki2 itu bukan orang yang tepat. Buang aja ke laut!

Duh, dunia seperti inikah yang nantinya akan dihuni oleh anak-anak saya? Atau bisa lebih buruk lagi?

*** Diva dalam Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh –- Dee 

 

Lima Orang Yang Kau Temui Di Surga

Five_peopleThe Five People You Meet In Heaven By Mitch Albom

"This is what heaven for: for understanding your life on earth"

Buku ini berkisah tentang seorang lelaki tua bernama Eddie. Ceritanya dimulai dari kematian Eddie di tempat kerjanya, setelah berusaha menyelamatkan seorang bocah kecil. Perjalanan Eddie setelah mati dimulai dengan pertemuannya dengan The Blue Man, yang sama sekali tidak pernah dikenalnya. Si manusia biru ini mengatakan paa Eddie bahwa ada lima orang yang akan ditemuinya di Surga, tiap orang berada dalam hidupnya dengan alasan masing2. dan orang-orang ini akan membantu Eddie memahami hidupnya di dunia dulu. The Blue Man sendiri ternyata memilki hubungan yang signifikan dengan Eddie. Orang ini, meninggal dunia karena Eddie.

Orang kedua yang ditemui Eddie adalah kaptennya semasa perang. Setelah mengobrol beberapa saat, sang kapten mengaku bahwa ialah yang menembak kaki Eddie—untuk menyelamatkan nyawanya. Eddie selamat, tapi   kakinya tidak. Yang tidak pernah diketahui Eddie sampai ia mati adalah; sang kapten mengorbankan nyawanya untuk keselamatan Eddie dan dua kawannya yang lain dengan mengumpankan dirinya pada ranjau darat.

Orang ketiga yang ditemui Eddie sama sekali tidak pernah dilihatnya semasa hidup. Tapi wanita ini membantu Eddie mengerti alasan beberapa perilaku ayahnya dan pada akhirnya membantu Eddie untuk memaafkan ayahnya.

Pada perhentian selanjutnya Eddie bertemu istrinya, Marguerite, yang mengajarinya bahwa cinta tidak berakhir bahkan oleh kematian.

Orang terkahir yang ditemui Eddie adalah seorang bocah asia yang lucu bernama Tala. Bocah ini ternyata tewas karena ketidaktahuan Eddie pada waktu membakar markas musuh di waktu perang. Bocah ini pulalah yang membantu Eddie memahami bahwa hidupnya tidak sia-sia, pekerjaan nya yang membosankan di taman bermain menyelamatkan banyak nyawa. Selama hidupnya Eddie merasa ia tidak melakukan apa-apa dalam hidupnya, ia bukan siapa-siapa, dan bahwa ia tidak sepatutnya berada di sana. Setelah kematiannya, barulah Eddie bisa mengerti semua alasan yang bersembunyi di balik kejadian.

Bukunya bagus banget. Diceritakan dengan alur flashback—saat terakhir Eddie, masa kecilnya, saat2 pertemuan dengan lima orang di surga—dan banyak pelajaran tentang makna hidup tersurat dalam rangkaian kalimat.

"Sometimes when you sacrifice something precious, you’re not really losing it. You’re just passing it on to someone else."

I’m Still Here

Why are they gone, and I’m still here?

Pernahkan kalian berharap, tubuh tak bernyawa yang terbaring di hadapanmu bukan lah orang yang kau cintai setengah mati tapi tubuh orang lain, entah alien atau saudara kembarnya yang menggantikan kematiannya. Esok atau lusa atau minggu depan orang yang kau kasihi itu akan kembali. Berdiri di hadapanmu seperti hari-hari sebelumnya. Tertawa riang dan mulai bercerita. Atau mungkin kau berharap itu semua cuma mimpi buruk yang panjang. Kau katupkan matamu dan berharap setelah hitungan ketiga segalanya akan kembali seperti semula. Ketika membuka mata, kau tersadar dalam kenyataan yang menyakitkan bahwa tidak ada alien atau saudara kembar, yang ada hanya orang yang sangat berarti buatmu—yang kini sudah tidak ada. Dan kalian dikuasai amarah yang nyaris meledakkan jantung. Mengapa mereka pergi begitu cepat sementara masih banyak hal yang seharusnya kalian lakukan bersama. Dan kalaupun mereka memang harus pergi juga, mengapa tidak ajak-ajak (seolah kematian adalah kehendak mereka dan dengan mudah mereka bisa mengajak siapapun ikut serta)?

Dulu saya seperti itu. Sekarang pun kadang-kadang masih sehingga saya kerap menolak diri membawa memori tentang mereka. Saya sembunyikan foto dan segala hal yang mengingatkan tentang mereka. Saya ungsikan diri jauh dari tanah mereka kembali. Bukan karena saya tidak bahagia saat mereka ada. Tapi justru karena saya sangat bahagia dalam kenangan itu sehingga mengingat mereka sekarang hanya berarti air mata. Tapi saya tidak bisa menahan kenangan yang tiba-tiba mendobrak masuk lewat udara yang saya hirup (wangi kesukaannya), lewat makanan yang terpajang yang tak sengaja tertangkap oleh mata (makanan kesukaannya), lewat tokoh komik yang tertawa jenaka di sampul depan (komik kesukaannya), lewat langit yang memamerkan warna favoritnya. Kadang berharap agar ingatan tentang mereka ditarik saja. Karena saya capek menahan rindu dan air mata. Tapi sepertinya itulah guna memori: untuk membuatmu menangis. Sehingga kau merasa masih manusia.

Sorry to tell you a sad story. Saya cuma lagi agak sensitif akhir-akhir ini.

Terngiang perkataan Syabli: "Mengapa kau bersedih? Sekian lama kau telah memilikinya sebagai orang yang kau kasihi. Kini pergilah dan cari sahabat yang lain. Sahabat yang tak akan mati, maka tak akan ada lagi sebab yang membuat kau bersedih. Keterikatan yang fana hanya akan mendatangkan duka."

Hhhh, thanks anyway Syekh. I’m working on it…

Bapakku yang Kucinta…

My_dad_n_i

Bapakku yang kucinta… pujaan hatiku… (dinyanyiin pake irama lagu Desaku ya). Saya mau cerita sedikit tentang Bapak saya yang awesome. Nggak, Bapak saya bukan tipe ganteng yang digila2i banyak perempuan. Bapak saya juga bukan orang kaya gila2an yang hartanya meluber sampe nggak tau mau dihabisin buat apa (kalo ada yang bingung duitnya mau diapain, saya mau banget jadi penerima beasiswa :D). Bapak saya juga bukan tipe pemikir pinter yang tulisannya tersebar di media massa dan pendapatnya banyak dikutip orang. Bapak saya cuma pensiunan pegawai negeri golongan III A. Salah satu orang paling sederhana yang saya tahu (sampe terkesan pelit. Huhuhu…).

Tapi biar saya ceritakan beberapa hal. Teman-teman, sanak famili, dan sepupu-sepupu saya biasa memanggil bliau dengan : BUAYA. Bukan, bukan karena Bapak saya itu playboy cap duren tiga atau buaya darat. Tapi karena dulu waktu mudanya, Bapak saya hobi nangkepin buaya buat dijual ke orang Cina (percaya nggak percaya. Saya juga nggak tau apa orang Cina suka makan daging buaya). Nah, pada suatu ketika, Bapak saya mengintai seekor buaya kecil yang sedang berenang-renang manis di sungai. Bliau mulai ngambil ancang-ancang untuk nangkep itu buaya. Temannya sudah menunggu di pinggir sungai dengan tali buat ngiket itu buaya. Hap! Si buaya mungil tertangkaplah. Bapak saya jumawa. Mereka berdua siap-siap ngiket moncong si buaya mungil.

Lagi ngobrol penuh suka cita gitu, tiba2 datenglah Sang Induk buaya dari sungai. Pelan…pelan…matanya penuh amarah dan dendam. Bapak saya dan temannya buru-buru naek ke darat sambil mbawa si buaya mungil (:nohope:). Inilah kesalahan mereka. Sudah lari bawa anaknya, lari nya ke darat pula. Buaya itu kan malah tambah kuat di darat. Dan terjadilah pertarungan itu. Bapak saya bergulat dengan buaya! Ekor Sang induk melecut punggung Bapak saya. Untunglah teman Bapak saya itu setia kawan. Dia nggak langsung ngabur begitu aja waktu Bapak saya gulet ama buaya. Dengan (di) berani (berani kan), sang teman meraih batu dan membidik mata buaya besar itu. Thank God kena! Sang Buaya meraung (hehehe… nggak kali ya) kesakitan, ada celah buat Bapak saya untuk kabur. Dan bliau nggak menyia-nyiakan kesempatan itu. Mereka berdua lari, lari, dan terus lari sampai di perkampungan penduduk. Bapak saya selamat, tapi nggak berarti dia kapok. Bliau masih berburu buaya, tapi dengan pelajaran itu bliau jadi lebih hati2.

Sabetan buaya itu berbekas. Punggung Bapak saya jadi agak bungkuk walo nggak kayak The Hunchback of Notredame. Beranjak dewasa, Bapak saya itu sering banget kecelakaan (kata sodara2 saya sih karena Bapak saya badung banget mudanya). Ya kesrempet motor, tabrakan badan sama motor, tabrakan motor sama motor, pas lagi naek motor kesrempet truk sampe guling2. Macem2 deh. Saya nggak tau, mungkin karena itu juga, di punggung Bapak saya tumbuh semacam punuk (kayak punuk onta gitu) yang harus dioperasi. Dan, begitu dioperasi, Bapak saya jadi lumpuh! Nggak bisa jalan, nggak bisa nggerakin kaki. Babak baru buat kehidupan bliau. Seperti belum cukup cobaan itu, nggak lama kemudian istrinya meninggal dan bliau harus menghadapi dua anaknya—yang amit2 jabang bayi badungnya nurun dari bapaknya. Beberapa tahun kemudian anak laki2nya meninggal. Anak perempuannya yang seharusnya menemani dan mengurusinya, pergi ke luar kota untuk meneruskan studi. Ia tidak pernah melarang, malah mendorong anaknya untuk berkelana.

Setelah saya belajar psikologi, saya baru tahu betapa semua cobaan itu bisa saja bikin Bapak saya jadi gila. Minimal stress berat. Tapi nggak. Walau semakin pendiam, Bapak saya rajin mengurusi kebun kecilnya di depan rumah. Rajin membuat jamu2an dari kunyit, jahe dan entah apa lagi, yang dikeringkan untuk anak perempuannya. Rajin belajar bahasa Sunda (nggak tau deh, kenapa bliau begitu terobsesi). Dalam keadaan lumpuh itu, bliau juga masih bisa inspeksi ke kebon duku nya di kampung sana. Masih bisa ‘buka’ kebon duren di lahan yang tersisa. Dan masih bisa meninggalkan bekas mendalam pada hati anak perempuannya.

Buat saya yang hampir lupa wajah ibu saya kalo nggak rajin liat fotonya, Bapak saya benar2 berharga.

I’m A Geek. Are You A Geek?

What Kind of Geek are You?
Name 
DOB 
Favourite Color 
Your IQ is  high
You are a  word nerd
Your strength is  you can understand and use slang
Your weakness is  chocolate
You think normal people are  stupid
Normal people think that you are  satanic
This quiz by owlsamantha - Taken 274549 Times.

New - Help with love and dating!

Mununggu

Siapa yang suka menunggu? Saya sama sekali nggak suka. Dan kalau ada orang yang senang menunggu, saya pengen banget kenalan dan tanya kenapa. Okelah kalo cuma sepuluh atau lima belas menit. Tapi kalo sampe jam-an? No, thanks!

Saya janjian sama adek tingkat jam enam pagi. Mau kemana pagi2 gitu Yo? Ehm, biasalah anak muda *Huahaha*. Walopun hari itu saya piket masak, saya bela2in dari jam setengah empat berkutat di dapur supaya bisa pegi tepat waktu. Jam setengah lima saya selesai, sholat, sarapan, trus mandi. Jam enam kurang lima saya udah siap pergi. Keluarlah saya menuju dunia yang masih bocah di pagi hari yang cerah itu. Lima menit, saya masih bersabar. Sepuluh menit, saya ‘paksakan’ diri tetap sabar. Lima belas menit, kaki saya mulai gatal2. Setengah jam, saya hubungi teman saya kalau2 dia lupa. Tapi tidak sodara, dia tidak lupa, jawabananya cuma satu kalimat pendek: "Tunggu sebentar ya Mbak". Oke, saya tunggu. empatpuluh lima menit sudah dan ubun-ubun saya tampaknya sudah mulai berasap. Jam tujuh lewat dua menit penantian saya berakhir, muncullah anak itu dengan cengiran yang tak akan saya samakan dengan cengiran kuda demi kesopanan. Ya, dia punya alasan tentu. Tapi saya malas mendengarkan. Saya anggukkan saja kepala dan mulai bernyanyi2 kecil.

I’ve been waiting for a long time
For this moment to come
I’m destined
For anything…at all