Children …
"Kalau adik-adik ingin cantik, jangan tunggu di kasitau orang. Kakak punya mantra ajaib. Begini caranya, adik-adik pergi ke cermin, dan bilang begini: ‘Saya cantik—saya cantik—saya cantik—saya—cantik’, begitu. Kakak jamin, kalian semua pasti akan cantik-cantik. Sampai kapan pun. Selama-lamanya. Amin!"***
Anak-anak sangat mudah belajar. Mereka juga sangat mudah mengadaptasi hal-hal baru yang tertangkap indera. Dan membuat orang dewasa terheran-heran dengan apa saja yang bisa mereka katakan atau lakukan. Suatu hari ketika sedang asyik mengedit tulisan, tiga orang bocah menyerbu kamar saya sambil menyapa dengan ceria: "Mbak Yoaaaannn… lagi ngetik tho?" Saya tersenyum dan mengangguk. Saya teruskan kegiatan dan membiarkan bocah-bocah itu bermain-main. Permainan favorit bocah-bocah ini adalah menyembunyikan kotak kacamata dan memaksa saya menebak di mana tempat persembunyiannya. Ketika saya tidak berhasil menemukannya, mereka akan segera mengambil barang itu seraya tertawa puas penuh kemenangan.
Setelah beberapa saat memperhatikan saya mengetik, Ifa si bungsu bersuara: "Mbak Yoan putih ya…" Saya kaget, tidak bisa menebak ke mana arah pembicaraan kami bermuara. Kemudian dua kakaknya menyambung. "Iya, aku loh item." "Iya, aku juga."
Saya memandang mereka tak percaya. Ada urusan apa bocah-bocah berumur kurang dari enam tahun ini bicara soal warna kulit? Lalu saya putuskan untuk berkomentar, "Lho, nggak apa-apa kan kulitnya item asal hatinya putih."
"Mbak Yoan itu udah putih, jangan ngomong gitu!"
Saya tercekat. Ifa yang usianya baru tiga tahun bisa mengeluarkan kalimat itu? Saya buru-buru mengoreksi, "Maksud Mbak Yoan, kalo orang kulitnya putih tapi hatinya jahat kan lebih baek orang yang kulitnya item tapi hatinya baek, putih. Iya kan? Buat apa hayo, cantik tapi jahat? Memangnya Ifa, Pipit, Puput mau temenan sama orang jahat?"
Kepala-kepala kecil itu menggeleng. Setelah itu, seperti tidak pernah terjadi apa-apa, mereka kembali asyik menarik-narik sprei dan main ibu-ibuan.
Saya nggak bisa lupa. Saya masih terpana pada cara berpikir anak-anak ini. Benak saya langsung menunjuk satu tersangka: TELEVISI! Bahkan anak-anak kecil sudah teracuni puluhan propaganda dalam iklan dan sinetron yang tiap hari dikonsumsi tanpa filter. Ironis ya, kita mati-matian menjaga kesehatan. Anak-anak dilarang makan ini nanti batuk. Nggak boleh maen ujan-ujanan, nanti pilek. Tapi menonton televisi? Orang tua tenang-tenang saja. Padahal buat saya, televisi adalah bahaya laten yang lebih berbahaya dari komunis.
Teringat puluhan iklan produk pemutih yang membanjiri televisi. Ada satu iklan di mana seorang gadis dipandang sebelah mata oleh laki-laki yang disapanya di jalan. Gadis ini lalu melihat kulitnya yang gelap dan bersedih. Untunglah ada penyelamat, malaikat ganteng yang menghadiahinya sabun pemutih kulit. Setelah memakai sabun itu, abracadabra! Si gadis jadi putih dan tambah percaya diri. Rasanya ingin tertawa melihat gambaran itu. Apakah kepercayaan diri diukur dari keputihan (ups, istilahnya kurang tepat ya?) kulit? Apakah seorang yang kulitnya putih serta merta cantik? Satu lagi, untuk tahu kalau diri kita cantik, apakah harus menunggu ada orang yang mengatakannya di depan muka kita?
Saya teringat seorang teman yang mati-matian berdiet supaya langsing dan disukai cowok-cowok. Can you believe that? Buat saya, kalau laki-laki itu memandang sebelah mata ketika dia masih berukuran besar dan tiba2 jadi suka ketika dia sudah langsing, berarti laki2 itu bukan orang yang tepat. Buang aja ke laut!
Duh, dunia seperti inikah yang nantinya akan dihuni oleh anak-anak saya? Atau bisa lebih buruk lagi?
*** Diva dalam Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh –- Dee

