Zarathustra suatu kali berkisah tentang tiga metamorfosis roh: bagaimana roh akan menjadi seekor unta, dan si unta menjadi seekor singa, dan si singa akhirnya menjadi sesosok anak. Apa maksudnya?
Adalah roh pemanggul beban yang berat dimana kehormatan dan rasa segan bersemayam. Ia berhasrat pada yang berat2. Ia senang berbangga dengan kekuatannya. Bertanyalah ia tentang apakah berat itu? Apakah hal yang paling berat?
Bukankah yang terberat itu: merendahkan dirimu sendiri agar melukai kesombonganmu? Membiarkan kesintinganmu keluar agar mengejek kearifanmu?
Ataukah hal itu: meninggalkan perjuangan ketika ia sedang merayakan kemenangannya? Guna mendaki pegunungan tinggi agar merayu si perayu?
Ataukah hal itu: menggantungkan makan pada biji eik dan rumput pengetahuan dan demi kebenaran, menderita laparnya jiwa?
Ataukah hal itu mencemplungkan diri ke dalam air kotor bila air itu air kebenaran, tanpa menghinakan katak-katak yang dingin atau menyengat?
Ataukah hal itu: mencintai mereka yang memusuhi kita dan mengulurkan tangan kita pada sang hantu ketika ia ingin menakuti kita?
[Nietzsche. Zarathustra: 75-76]
Maka sang unta akan memanggul bebannya melewati medan yang berat dan menemukan harga bagi dirinya. Tapi di tengah perjalanan, roh unta bermetamorfosis menjadi singa. Singa yang kuat dan terbiasa menjadi raja. Singa yang tidak pernah menyerahkan kebebasannya pada Naga besar yang berlaku tuan. Singa yang ingin memerintah di gurunnya sendiri.
Lalu, mengapa singa menjadi sosok dalam si roh? Bukankah unta yang manut dan nrimo itu sudah cukup dalam perjalanan hidup?
Singa, diperlukan karena ia punya kuasa untuk mengaumkan TIDAK pada teriakan HARUS dari Naga besar. Singa memang tidak mampu menciptakan nilai-nilai baru, tapi ia dapat membebaskan dirinya dari Keharusan yang tidak ia inginkan dengan sepotong TIDAK.
Bagaimana dengan sesosok anak? Tidakkah anak itu lebih lemah dari singa? Apakah yang dapat dilakukan anak yang singa tak mampu?
Si anak itu lugu dan pelupa, satu awal baru, suatu olahraga, sebuah roda yang berputar sendiri, satu gerak pertama, satu YA suci.
Ya, satu YA suci diperlukan, Saudara-saudaraku, bagi olahraga penciptaan: si roh kini menghendaki kehendak-nya sendiri, si roh yang memisahkan diri dari dunia kini memenangi dunia-nya sendiri. [Nietzsche. Zarathustra: 78]
Saya pikir, sedikit banyak saya setuju dengan Om Nietz. Waktu kita kecil dulu belom punya ilmu yang cukup, kita biasanya iya2 aja sama apa yang di suruh atau di bebankan pada kita. Entah oleh orang tua, guru, kawan sebaya, atau lingkungan kita. Tapi masa2 nrimo itu akan ada akhirnya. Sebagian kita pasti merasakan masa2 “pemberontakan” itu. Saat kita ngerasa have enough atas segala yang diidamkan oleh manusia2 Extra Territorial (orang2 luar diri kita maksudnya, bukan alien). Saat kita (mem) berani (kan) diri untuk berkata TIDAK buat apa2 yang tidak kita sukai atau apa2 yang tidak sesuai dengan standar yang kita buat untuk diri kita sendiri.
Kita emang harus berani bilang TIDAK. Apalagi buat hal2 yang jelas2 nggak baek buat diri dan perkembangan jiwa kita. Kita harus berani bilang TIDAK pada orang2 yang menawarkan persahabatan semu melalui narkoba. Apaan tuh, masa ngaku temen tapi jerumusin temennya ke jalan yang menyakitkan? Bullshit! Yang begitu itu bukan kawan, tapi harus di LAWAN.
Kita nggak perlu dan nggak boleh tunduk pada siapapun dan apapun. Karena kita, manusia, cuma milik Tuhan. Cuma pada Doi-lah kita boleh menghamba, dan BUKAN pada berhala mana pun yang menyaru berbagai macam bentuk di dunia ini. Okeh guys! Selamat MELAWAN!