Archive for July, 2006

Hari Tanpa Dialog

Aku memutuskan hari ini adalah hari tanpa dialog. Kularang lidahku berkata-kata pada sesama. Bolehlah menggumam pada diri sendiri, tapi jangan terlibat dalam apapun bentuknya percakapan lebih dari satu mulut saja.

Hari ini adalah hari tanpa dialog. Maka kupenuhi detik dengan liur yang dengan cerdik membentuk peta Sumatra dan Selat Sunda di atas sarung bantal warna hijau muda.

Hari ini adalah hari tanpa dialog. Tapi apa asyiknya tantangan tanpa tantangan? Maka beranjak aku membasuh muka, bersiap mencari kerumunan massa. Hanya untuk berada di sana dan tidak bicara.

Hari ini adalah hari tanpa dialog. Tapi bahkan makhluk paling pendiam yang kukenal berkeras bertanya ada apa. Dan kujawab dengan senyum hampa. Setelah hari ini akan kujelaskan semua. Sabarlah karna belum waktunya.

Hari ini adalah hari tanpa dialog. Tapi belum senja aku sudah tergoda. Walau akhirnya bersyukur karena ternyata aku masih manusia!

Voyeurisme

Anak-anak Psikologi pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah voyeurism. Apalagi bagi mereka yang doyan mengkaji masalah abnormalitas seksual. Tapi buat kalian yang belum mengerti, saya akan berbaik hati menjelaskan.

Oke, saya akan kasih kata kunci. Voyeurism, voyeur artinya NGINTIP. Ting…ting… sudah ada lampu aladdin yang menyala di  sel otak? Belum juga? Ampun deh!

Orang-orang voyeurist biasanya mendapatkan kepuasan seksual dengan satu aktifitas: MENGINTIP. Ngintip orang mandi, ngintip orang ganti baju, dan ngintip yang lain-lain (paham kan maksud saya?). Bagi yang pernah membaca komik KOTARO, pasti tahu seberapa parahnya “penyakit” voyeuristik Kotaro si gondrong.

Dan… perbandingan voyeurism di kalangan pria dan wanita sangat besar. 9: 1. Itu karena wanita biasanya tidak senang melihat aktifitas seksual dan gambar atau film porno. Ck…ck…ck…. Kaum pria, semakin banyak saja predikat yang bisa kalian sandang. Dari buaya darat, laki-laki hidung belang, kecenderungan voyeuristik???

Sialnya, media massa kita sekarang ini sangat mendukung “budaya” voyeuristik. Dan penderitanya kali ini bukan cuma laki-laki. Tapi juga kaum hawa (saya adil kan? Semuanya kebagian).

Lho kok bisa? Ya bisa dong. Teman-teman tahu Tabloid kan? Macam Popular, Nyata, Nova, Cek & Ricek, de el el.  Tabloid-tabloid yang berwajah genit dan isinya kebanyakan gosip. Tabloid-tabloid ini penuh dengan pengkultusan terhadap selebritis. Tabloid-tabloid ini merupakan salah satu “cara” kita untuk dekat dengan para selebriti. Yang sama sekali tidak kita kenal tapi kita merasa akrab dengan mereka karena kabar tentang mereka bisa dengan mudah kita dapatkan dari televisi dan media cetak. Kita merasakan ekstase ketika melihat mereka di televisi. Dan tidak ingin ketinggalan berita tentang mereka.

“Eh, tau nggak, vokalisnya Puter Pen melahirkan loh”

“Masa’ sih?”

“Iya bener. Coba deh baca tabloid Bigos terbaru….bla…bla…bla….”

Kita memburu berita tentang mereka. Kadang meniru cara dandan mereka, gaya bicara mereka, dan omongan mereka. Kita melakukan ini karena rasa ingin tahu yang ganjil. Voyeurism. Kita merasakan kepuasan ketika rasa ingin tahu itu terpenuhi. Ketika kita bisa mengkonsumsi berita tentang para selebriti ini secara visual. Kali ini, objek pemuas nafsu kita adalah selebritis, dan mediumnya bukan lagi lubang yang dibuat di dinding kamar mandi. Tapi media massa.

Aku Heningku

Aku heningku berpadu satu
di sepertiga malam kuketuk pintu-Mu
Berharap rangkaian kata menembus angkasa
Walau harus bertarung takdir dan doa

Aku heningku tenggelam dalam renung
Hidup yang pemurah mengajariku ramah
Tertunduk aku dalam sujud yang lengkung
Rindu mencintai-Mu sampai lelah berdarah

Aku heningku berpadu satu
Mabuk dalam simfoni nyanyian bisu
Mengenang sempurna cinta-Mu pada ruas-ruas tulangku
Sedang aku hanya abdi yang tak tahu malu

Tentang Metamorfosa

Zarathustra suatu kali berkisah tentang tiga metamorfosis roh: bagaimana roh akan menjadi seekor unta, dan si unta menjadi seekor singa, dan si singa akhirnya menjadi sesosok anak. Apa maksudnya?

Adalah roh pemanggul beban yang berat dimana kehormatan dan rasa segan bersemayam. Ia berhasrat pada yang berat2. Ia senang berbangga dengan kekuatannya. Bertanyalah ia tentang apakah berat itu? Apakah hal yang paling berat?

Bukankah yang terberat itu: merendahkan dirimu sendiri agar melukai kesombonganmu? Membiarkan kesintinganmu keluar agar mengejek kearifanmu?

Ataukah hal itu: meninggalkan perjuangan ketika ia sedang merayakan kemenangannya? Guna mendaki pegunungan tinggi agar merayu si perayu?

Ataukah hal itu: menggantungkan makan pada biji eik dan rumput pengetahuan dan demi kebenaran, menderita laparnya jiwa?

Ataukah hal itu mencemplungkan diri ke dalam air kotor bila air itu air kebenaran, tanpa menghinakan katak-katak yang dingin atau menyengat?

Ataukah hal itu: mencintai mereka yang memusuhi kita dan mengulurkan tangan kita pada sang hantu ketika ia ingin menakuti kita?
[Nietzsche. Zarathustra: 75-76]

Maka sang unta akan memanggul bebannya melewati medan yang berat dan menemukan harga bagi dirinya. Tapi di tengah perjalanan, roh unta bermetamorfosis menjadi singa. Singa yang kuat dan terbiasa menjadi raja. Singa yang tidak pernah menyerahkan kebebasannya pada Naga besar yang berlaku tuan. Singa yang ingin memerintah di gurunnya sendiri.

Lalu, mengapa singa menjadi sosok dalam si roh? Bukankah unta yang manut dan nrimo itu sudah cukup dalam perjalanan hidup?

Singa, diperlukan karena ia punya kuasa untuk mengaumkan TIDAK pada teriakan HARUS dari Naga besar. Singa memang tidak mampu menciptakan nilai-nilai baru, tapi ia dapat membebaskan dirinya dari Keharusan yang tidak ia inginkan dengan sepotong TIDAK.

Bagaimana dengan sesosok anak? Tidakkah anak itu lebih lemah dari singa? Apakah yang dapat dilakukan anak yang singa tak mampu?

Si anak itu lugu dan pelupa, satu awal baru, suatu olahraga, sebuah roda yang berputar sendiri, satu gerak pertama, satu YA suci.
Ya, satu YA suci diperlukan, Saudara-saudaraku, bagi olahraga penciptaan: si roh kini menghendaki kehendak-nya sendiri, si roh yang memisahkan diri dari dunia kini memenangi dunia-nya sendiri. [Nietzsche. Zarathustra: 78]

Saya pikir, sedikit banyak saya setuju dengan Om Nietz. Waktu kita kecil dulu belom punya ilmu yang cukup, kita biasanya iya2 aja sama apa yang di suruh atau di bebankan pada kita. Entah oleh orang tua, guru, kawan sebaya, atau lingkungan kita. Tapi masa2 nrimo itu akan ada akhirnya. Sebagian kita pasti merasakan masa2 “pemberontakan” itu. Saat kita ngerasa have enough atas segala yang diidamkan oleh manusia2 Extra Territorial (orang2 luar diri kita maksudnya, bukan alien). Saat kita (mem) berani (kan) diri untuk berkata TIDAK buat apa2 yang tidak kita sukai atau apa2 yang tidak sesuai dengan standar yang kita buat untuk diri kita sendiri.

Kita emang harus berani bilang TIDAK. Apalagi buat hal2 yang jelas2 nggak baek buat diri dan perkembangan jiwa kita. Kita harus berani bilang TIDAK pada orang2 yang menawarkan persahabatan semu melalui narkoba. Apaan tuh, masa ngaku temen tapi jerumusin temennya ke jalan yang menyakitkan? Bullshit! Yang begitu itu bukan kawan, tapi harus di LAWAN.

Kita nggak perlu dan nggak boleh tunduk pada siapapun dan apapun. Karena kita, manusia, cuma milik Tuhan. Cuma pada Doi-lah kita boleh menghamba, dan BUKAN pada berhala mana pun yang menyaru berbagai macam bentuk di dunia ini. Okeh guys! Selamat MELAWAN!