Archive for September, 2006

Nyengir Lagi Nyengir Lagi

"Kalo obatnya udah abis, Insya Allah udah sembuh…"


Sabtu kemaren abis jadi apoteker dadakan. Gerusin obat, masuk2in obat ke plastik, trus manggilin para pasien (kalo baca resep sih blom bisa. Tulisan dokter ampun deh, susye banget bacanya). Ada banyak kisah lucu dari baksos kemaren. Salah satunya waktu saya jelasin pemakaian obat ke seorang bapak. Waktu saya bilang: "Obat yang ini dimakan dua tablet setelah BAB ya Pak."

Si Bapaknya bengong, "Apa Mbak?"

Saya belom sadar, "Iya, setelah BAB, Bapak makan dua tablet."

Si Bapak masih bengong, "BAB itu apa Mbak?"

Oalah, Yoan Yoan. Saya baru sadar, "Maksud saya, setiap setelah Buang Air Besar, Bapak harus minum obat ini dua tablet."

Baru deh bapaknya manggut2. Hehehe, namanya juga orang kampung ya. Mreka nggak ngerti bahasa2 yang nurut kita udah biasa. Ada lagi, waktu saya bilang: "Ini obat yang pink, dimakan 2 kali sehari tapi separo aja Bu."

Si Ibu sama bengongnya. Trus temen saya nyikut saya, "Nggak ngerti pink itu apa Mbak," katanya pelan di telinga saya.

Hehehe, saya ngengir lagi.

Trus ada lagi anak umur sepuluh taunan, waktu saya kasi obat dia tanya: "Kalo obatnya abis gimana Mbak?"

Saya jawab, "Kalo obatnya abis, Insya Allah udah sembuh Dek."  Waktu ngomong tu saya nggak mikir apa2. Trus pas saya ceritain ke temen saya en apoteker benerannya mereka ketawa, "Kok bisa2 nya nentuin orang udah sembuh apa belom…"

Hehehe, saya nyengir lagi deh. Wah, padahal udah bertekad nggak mau banyak2 nyengir, tapi kok ada aja yang bisa bikin saya nyengir ya?

Maapin Akyu Yah…

Hunting paket lebaran di Pasar Besar. Begitu masuk parkiran udah disambut sama lagu terpopuler abad ini. "Bang SMS siapa ini Bang. Bang pesannya pake sayang2…" Huahaha, saya ketawa sambil mendekap mulut erat-erat. Banyak asep soalnya :p. Temen jalan saya juga cekikikan di sebelah. Kami melangkah lebih jauh. Naek tangga, Masya Allah! Tiga penjual VCD bajakan dengan kompak menyetel lagu yang sama. Tawa saya hampir meledak, dak. Ya ampyuuun… Lucu ya? Kalo dipikir2, selera orang Indonesia tu aneh juga ya. Kok bisa ya pada suka sama lagu ini? Kok bisa ya nyiptain lagu begituan? Saya jadi pengen nanya sama yang buat lagu, bertapa di mana pas bikin lagu? Tu lagu kok bisa segitu terkenalnya ya? Hehehe, pengen nyengir mulu nih. Kalo denger lagu itu bawaannya mo ketawaaa mulu. Asik juga buat obat stress, atau malah bikin tambah stress?

Huahaha. Mau ketawa lagi. Sialnya ni ya, kuping saya tu termasuk yang sensitif sama lagu. Denger satu dua kali aja bisa hafal liriknya (coba kalo ngapal Quran, susye bener *pusing dah*). Tau2 saya udah berdendang ria gitu aja; "Bang tolong jawab tanyaku abang. Bang nanti hape ini kubuang…" Halah…. Astaghfirullahalazhim… Huhuhu… lidah, kuping, mata, maapin akyu yah…

Menjadi Dewasa?

Suatu pagi di kamar saya, Wiwin berkutat dengan setrika panas dan baju kusutnya. Disela kesibukannya ia bertanya, "Mbak Yoan sekarang semester berapa sih?"

Reaksi pertama saya adalah nyengir, "Udah banyak angkanya, malu saya." Tapi Wiwin nggak mau menyerah begitu saja. Terus didesaknya saya. Saya tantang ia untuk menebak.

"Hmm, semester 5 ya?"

Cengiran saya makin lebar, di luar Nia cekikikan. "Kurang banyak Win," kata saya.

"Ooo… semester 7?" cecarnya lagi.

"Masih kurang banyak," balas saya.

"Ih, semester 7 kan? Hayo ngaku!"

Saya ketawa, "Aku sekarang semester sebelas, Win"

"Hah? Masa? Ah bo’ong. Masa semester sebelas? Kok kayak masih semester lima atau tujuh-an gitu?" Wiwin masih nggak percaya.

Saya diem. Mikir. Apa saya sebegitu kekanak-kanakannya sampe2 orang sering salah kira? Kadang pengen kayak Mbak2, temen2 ato bahkan adek2 tingkat saya yang gayanya dewasa banget. Lemah lembut, nggak sradak-sruduk kayak saya, nggak cengengesan. Tapi trus saya mikir, emangnya tanda2nya orang dewasa itu harus selalu begitu ya? Iya sih, saya sadar ada individual differences. Tiap individu itu berbeda, masing2 punya keunikan tersendiri. Masing2 punya karakter sendiri yang menjadikannya berbeda dengan yang lainnya.

Hiks, jadi inget diksar kemaren. Pak Syifa bilang: "Saya nggak mungkin melantik relawan yang cengengesan…" Hati saya langsung mencelos. Saya tu yang ketawa mulu hampir setiap saat. Saya tu yang nyeletuk waktu materi (harusnya mereka tau kalo itu tanda ‘kehidupan’. Di belakang saya anak2 pada tewas bergelimpangan entah udah ngimpi apa aja). Saya tu yang nyanyi2 en ngobrol waktu jurit malem. Kelompok saya yang paling rame dalam setiap kegiatan. Padahal kelompok kami terhitung sukses melaksanakan semua tugas yang diberikan (kecuali tugas terakhir. Nggak kuaaaatttt *Huh! manja!*), tapi sepertinya keberhasilan2 itu langsung pupus gara2 "si cengengesan". Fiuhh… Akhirnya saya berapologi pada diri sendiri; nggak pa-pa Yo. Yang penting tetep semangat (halah *gubrak*).

Paradoksal, sebenernya saya nggak mau kehilangan sisi kanak2 dalam diri saya. Saya ingin tetap terpesona pada setiap hal yang saya temui. Saya ingin tetap memaknainya sebagai hal baru yang menarik—seperti kanak2 yang selalu terpesona dan bersemangat menjelajah apapun. Saya ingin selalu ceria seperti kanak2 yang melompat-lompat gembira menikmati dunia. Walaupun efek sampingnya, saya jadi cengengesan, suka ketawa, dan meluap-luap (banjir kale…). Mungkin itu sebabnya saya keliatan kekanak-kanakan…

 

Misteri Soliter

Mari kita berjanji untuk tidak meninggalkan planet ini sebelum kita temukan siapakah diri kita dan dari mana kita berasal.
[Misteri Soliter—Jostein Gaarder]


Berapa banyak manusia yang mempertanyakan siapa gerangan dirinya, dari mana ia berasal dan hendak ke mana? Pertanyaan ini mungkin bisa dijawab dengan menunjukkan Kartu Tanda Penduduk atau Kartu Mahasiswa, atau Kartu Pelajar. Tapi jika saja kita sadar, identitas yang tertulis di kartu tanda pengenal itu tidak cukup untuk menjawab pertanyaan2 dasar—yang anehnya jarang ditanyakan oleh kebanyakan manusia. Lewat Misteri Soliter, Gaarder mengajak kita untuk kembali mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sudah terpendam dalam alam bawah sadar kita.


Gaarder mengajak kita berpetualang bersama Hans Thomas dan ayahnya yang mengadakan perjalaan ke Yunani untuk menemukan ibunya yang tersesat di belantara mode. Dalam perjalanan ini Hans Thomas bertemu seorang kurcaci yang memberinya kaca pembesar. Ia bertemu tukang roti tua yang memberi roti kismis berisi buku mungil tentang pelaut di pulau terpencil yang dipenuhi kartu-kartu remi bernyawa. Dalam buku ini juga nantinya Hans Thomas yang baru berusia 12 tahun ‘menemukan’ rahasia sejarah panjang keluarganya selama tiga generasi. Lewat dialog ayah-anak dan cerita dari buku mungil, Gaarder menyampaikan banyak pesan. Tentang bagaimana manusia kadang ‘lupa’ bertanya dan menganggap segala hal yang terjadi sebagai hal yang biasa sehingga sering kehilangan makna. Tentang manusia seperti kita yang punya hak sama untuk mendapat lebih dan mengukir nama dalam sejarah dengan sesuatu yang berarti. Tentang joker yang ada di tiap jaman, menolak menjadi orang ‘kebanyakan’,  berkeliling kota dan bertanya ini itu, membuat berang banyak orang yang tak mau hidup mapannya terganggu.

Who Moved My Cheese By Kenneth Blanchard

When you move beyond your fear, you feel free—Who Moved My Cheese By Kenneth Blanchard

Tersebutlah dua ekor tikus bernama Sniff dan Scurry dan dua orang kecil—seukuran tikus tapi bertingkah laku persis seperti manusia umumnya—Haw dan Hem. Mereka berempat punya misi khusus di dunia ini yaitu menemukan keju istimewa. Setiap hari mereka berkeliling labirin untuk mencari keju yang sesuai dengan selera mereka. Suatu ketika mereka berempat sampai di ujung Stasiun Keju C dan menemukan tumpukan keju yang segera mereka klaim sebagai milik mereka. Ceritanya selesai? Oh belum. Tak berapa lama, keju di Stasiun Keju C hilang! Para tikus yang lebih dahulu sadar. Tapi mereka tidak berhenti di situ. Tikus2 ini segera bersepakat untuk mencari keju lain di luar sana.

Haw dan Hem yang tiba kemudian sangat terkejut. Who moved my cheese? Teriak Hem. Mereka berdua menghabiskan banyak waktu menyesali dan menanti di sana, siapa tahu keju itu akan datang kembali. Tapi seperti yang kita semua tahu, harapan mereka ternyata semu. Setelah beberapa waktu, Haw memutuskan untuk ‘mengalahkan ketakutan’ nya dan pergi lebih jauh ke dalam labirin untuk mencari keju baru, meninggalkan Hem yang masih saja meratapi kepergian keju-nya. Perjalanannya tidak mudah, tentu saja. Haw hampir dikalahkan oelh ketakutannya kalau tidak menegar2kan diri.

Ceritanya keren. Tentang perubahan dan keberanian kita untuk berubah. Tentang bagaimana menaklukkan ketakutan2 irasional yang muncul dalam diri dan menghambat perubahan. Tentang melepaskan kenangan dan berusaha terus maju. Kalo mau ebook-nya, bisa minta langsung ke sayah…