Archive for February, 2007

Upil. Hah? Upil?

Sakit itu… nggak enak ya. Tiga hari terkapar tak berdaya di tempat tidur rasanya bosan berat. Mau baca-baca, pusing banget. Mau olahraga, badan lemes semua kayak Superman ngantongin kryptonite (lagian badan demam gitu mau olahraga, gaya lu Yo!). Mau nge-game, nggak kuat duduk tegak lama-lama. Mau dugem, lebih nggak mungkin lagi. Cakep-cakep gini saya kan masih manusia semesta yang berusaha taat pada aturan Sang Pencipta :D. Akhirnya saya cuma bisa jadi manusia tanpa guna yang teronggok bak gombal butut, hidung basah oleh ingus yang walaupun sudah disedot berkali-kali tetep bandel pengen liat dunia, mata ketap-ketip memandangi langit-langit berharap ada ujan duit (yang nggak bakal mungkin kecuali ada milyarder bosen duit yang tiba-tiba pengen saweran).

Waktu jadi manusia tak berguna begini bikin saya mikir, apa ini cara Tuhan yang ajaib untuk mengingatkan saya? Tuhan seperti ngomong: “Kamu lahir ke dunia ini sendirian, mati nanti juga sendirian. Jadi kamu harus kuat menghadapi hidup ini sendirian. Karena bagaimanapun juga, dalam hidup ini nggak ada pemeran pengganti yang bisa menggantikan sakit, luka, dan air matamu. Maka nikmatilah saja peranmu. Melebur dalam hidup ini. Nggak usah protes. Kamu protes pun nggak berguna. Kamu mau apa? Wong Saya yang Kuasa Menghidupkan dan Mematikan kamu.” Kemudian Dia tertawa terkekeh-kekeh dan saya cuma bisa manyun.

Kalo lever dan maag saya cuma kesentil sedikit, sepupu saya sampe berak darah karna sakit maag-nya yang sudah kronis. Betapa ya, kita itu sering nggak manfaatin waktu, kemampuan, dan perhatian. Ketika ‘alam mengingatkan’ dengan sakit, atau bencana, baru deh kita nyadar. Tapi ya itu, kadang kita terlambat sadar. Tau-tau harus diopname. Sadar-sadar ginjal udah rusak. Tau-tau paru-paru udah bolong. Dan akhirnya menyisakan penyesalan yang manggil-manggil kalap di belakang. Siapa coba yang nggak nyesel dengan adanya banjir nggak keru-keruan di Jakarta? Paling-paling produsen sepatu bot karna produknya banyak dicari orang, itu juga kalo pabriknya nggak ikut dihantam banjir. Yah, tapi kalo cuma nyesel doang mah nggak ada artinya. Upil juga masih lebih berharga kali, setidaknya ia eksis sebelum akhirnya disentil keluar oleh ujung jari. Nah, apa hubungannya upil dengan ini semua? Tugas kalian untuk mencari tau jawabannya :peace:D

SIAP UNTUK BERUBAH?

Berubah


Anthony Robins, seorang NLP Master pernah berujar: Jika KITA ingin membuat perubahan, hal pertama yang harus kita lakukan adalah MENINGKATKAN STANDAR. Jangan hanya puas dengan keinginan-keinginan kecil. Berambisilah. Bermimpilah. Tulis semua hal yang tidak ingin kita terima dalam hidup, tulis juga segala hal yang kita harapkan untuk terjadi. Perjelas maksud dan tujuan kita. Perjelas keinginan dan harapan kita. Dalam bahasa Teh Suci, “Kalo kita ingin menikah, tetapkan dengan orang seperti apa kita akan menikah. Nggak sekedar perempuan (kalo laki-laki) atau laki-laki (untuk perempuan). Nggak sekedar manusia bernyawa. Semuanya harus jelas.”

KITA harus putuskan mulai sekarang untuk hidup dengan filosofi ini: SAYA MENUNTUT LEBIH BANYAK PADA DIRI SAYA SENDIRI DARI PADA EKSPEKTASI ORANG LAIN. Karena ketika kita menetapkan standar baru untuk diri kita, hal itu bukan sekedar tujuan. Standar ini adalah sesuatu yang hidup dalam diri kita, udara yang kita hirup tiap harinya, dan sesuatu yang akan kita capai bagaimanapun caranya. Dibutuhkan usaha untuk terus dan terus memperbaiki diri.

Setiap kita pasti pernah berada dalam kondisi seperti ini. Dalam hidup ini pasti ada sesuatu yang terlihat sulit dan impossible entah itu dengan orangtua kita, teman-teman, studi, karir, pekerjaan, atau masalah kesehatan. Tapi ada satu momen ketika kita melihat pada tingkat fokus yang berbeda, komitmen yang berbeda, atau standar yang berbeda. Dan kita menemukan jalan keluar. Dulu saya mengira tidak mungkin bisa bertahan hidup di dunia ini, sampai ingin bunuh diri rasanya. Tapi kemudian saya tersadar banyak sekali yang saya bisa lakukan dengan tetap hidup. Saya ingin tetap hidup. Saya harus bertahan hidup. Tiba-tiba perspektif saya berubah dan keinginan bunuh diri itu menjadi lelucon paling lucu di dunia.

Ketika kita menaikkan standar, penting untuk BENAR-BENAR MEMPERCAYAINYA. Karena kita sesungguhnya telah mensabotase diri sendiri ketika kita tidak percaya bahwa kita bisa. Berbulan-bulan yang lalu di Coban Talun, saya dan teman-teman memilih untuk percaya bahwa kami mampu mengangkat tas carrier setinggi paha yang beratnya setengah kali berat badan, atau mungkin lebih (untuk kasus Mbak Etika ) dan membawanya kemana-mana seolah ia adalah anak pertama yang sangat kami sayangi. Memang berat, tapi setelah itu kami jadi tahu bahwa kami TERNYATA mampu menggotong-gotong carrier seberat satu sak beras itu.

Kepercayaan kita seperti perintah tak langsung yang mengabarkan kondisi kita, yang memberitahu apa yang mungkin dan tidak mungkin terjadi, apa yang bisa dan tidak bisa kita lakukan. Rasa percaya itu membentuk setiap aksi, setiap pikiran, dan setiap perasaan yang kita alami. Dan batas kepercayaan itu setara dengan batas keberhasilan. Maka, kata Anthony Robins, mengubah batas kepercayaan kita adalah inti untuk menciptakan perubahan yang nyata dan bertahan lama dalam hidup kita.

Hal terakhir setelah menaikkan standar dan mengubah batasan kepercayaan adalah sesuatu yang simpel tapi kuat: BERIKAN LEBIH DARI YANG KITA HARAP UNTUK DAPATKAN. Entah kita sadar atau tidak, berkontribusi adalah kebutuhan terbesar bagi manusia. Maka ketika ada pertanyaan apa yang kita dapat dari ummat, mengapa tidak membaliknya? APA YANG BISA KITA LAKUKAN UNTUK UMMAT? APA YANG BISA KITA BERIKAN UNTUK UMMAT? Ingat saja bahwa Allah akan membantu orang-orang yang memudahkan urusan saudaranya. Ingat saja Al-Baqarah ayat 265. Ingat saja, ketika kita memberi lebih banyak dari yang kita harapkan untuk kita terima, kita akan selalu berkelimpahan.

Siap untuk berubah?

Kata Adalah Senjata

Adalah kata-kata yang memberi bentuk pada sesuatu yang masuk dan keluar dari diri kita

Adalah kata-kata yang menjadi jembatan untuk menyebrang ke tempat lain

Ketika kita diam, kita akan tetap sendirian

Berbicara, kita mengobati rasa sakit

Berbicara, kita membangun persahabatan dengan yang lain

Para penguasa menggunakan kata-kata untuk menata imperium diam

Kita menggunakan kata-kata untuk memperbaharui diri kita…

Inilah senjata kita saudara-saudaraku.

[Subcomandante Marcos, 12 Oktober 1995]