Archive for June, 2007

Stress… Obatnya Iman dan Takwa…

Kalo lagi stress, jadi inget Bang Roma (dudulz ya, bukannya inget Allah), inget lagunya yang ngetop banget ituh. Tiap pagi skripsi menari2 di depan mata. Bangun tidur inget skripsi. Mau tidur inget skripsi, sampe gak bisa tidur (hebat ya, Yoan, gak bisa tidur?). Mau jalan2 inget skripsi, jadi gak jadi deh jalan2nya. Mau baksos inget skripsi. Mau liqo inget skripsi. Mau ngapa2in yang diotak cuma skripsi doang dah pokoknya. Yang ada saya jadi lebih sering bengong (bego banget ya, bukannya dikerjain skripsinya malah bengong aja).

Kemaren waktu lagi nungguin Mamih di depan BC sambil makan es krim, dosen pembimbing saya lewat. Eh saya bukannya nyamperin malah bengong aja kayak anak autis, tetep njilatin es krim tanpa dosa yang ampir abis. Kayaknya waktu berhenti. Sedetik.. dua detik.. sampe berdetik detik saya tetep bengong aja sampe si Ibu pergi dengen motornya. Ampuun deh…

Bab 4 saya sekarang udah nginep tiga hari dua malem di meja si Ibu. Mau minta ibunya cepet meriksa juga gak enak ati, lha wong saya mandeg gak tanggung2: empat bulan. Mosok dateng2 langsung minta cepet2. tapi ya sebenernya pengen dicepetin, soalnya saya  ngejer ujian bulan juli ini. Udah capek. Bosen ditanyain orang kapan lulusnya. Tidak tahukah kalian wahai orang2 yang suka nanyain Yoan kapan wisuda, that hurts me… Ihik… ihik… Gimana kalo kalian nggak usah nanya2 lagi, diganti doa aja ya. Ntar kalo udah selese saya bakal bikin pengumuman besar2an kok. Ya? Ya?

Kepada Tuhan

kuminta Tuhan menemaniku dalam kesepian
kemudian kutinggalkan Ia dalam keriuhan

kuminta Tuhan mendukungku dalam kecemasan
kemudian kubunuh Ia dalam kesenangan

kuminta Tuhan mendengarku saat aku jatuh
kemudian kutulikan telinga saat pangilan-Nya bergemuruh

kuminta Tuhan menghiburku dalam lelahnya perjalanan
kemudian kuhina Ia dalam kegembiraan

kuminta Tuhan menolongku dalam bahagia dan kesusahan
kemudian kukhianati Ia sesampainya di tujuan

…seorang hipokrit meringkuk dalam gigil dan bergumam perlahan…

Tuhan…
ketika aku ingin lari, jangan biarkan aku pergi
ketika aku tersesat, izinkan aku kembali
karena aku masih ingin menangis dalam rindu ketika menyebut nama-Mu
karena aku hanya abdi tak tahu malu yang berharap kasih-Mu

[then a phone call answered my pray...]

Tuhan, Bicaralah Padaku…

Tuhanku…

Bicaralah padaku bila aku kesepian

Bisikkanlah dukungan-Mu bila aku dirundung kecemasan

Dengarkanlah suaraku bila aku jatuh

Sudilah menjadi bagiku penghiburan dalam perjalanan

Tempat bernaung di waktu panas

Tempat berteduh di kala hujan

Tongkat penuntun dalam kelelahan

Dan penolong dalam bahaya

Semoga aku berhasil mencapai tujuanku

Sekarang, dan juga nanti

Pada akhir hidupku

[Doa para peziarah menuju santiago de Compostela]

Surga Dunia

Malam itu, seperti biasanya, saya bersiap
tidur dengan iringan Chopin ditambah bonus pemandangan bulan purnama
dari balik jendela. Beautiful indeed. Salah satu ‘pemandangan
surga’ yang bisa manusia dapatkan di bumi ini. Hmm, surga. Saya
teringat percakapan dengan sopir mobil jenazah RZI Malang, Pak
Misnadi paginya. Beliau bilang, “Mbak Yo, kebanyakan orang itu
sudah puas dengan sholat, puasa, dan menjauhi maksiat. Seolah-olah
mereka nanti pasti diganjar surga di akhirat. Tapi kalo saya Mbak,
kok ya mau dapet surga aja nunggu mati tho? Kenapa ndak menciptakan
surga waktu masih hidup ini?”

Saya bengong sejenak, “Maksud Pak
Nadi?”

Pak Nadi tersenyum dan membalas, “Ya
maksudnya ndak keluar dari ajaran Islam, Mbak. Maksud saya, setiap
hari selama kita masih hidup ini, kenapa ndak berusaha membuat orang
lain senang? Ketika saya melakukan sesuatu yang menyenangkan orang
lain, itu surga dunia. Jadi setiap hari selama kita masih hidup kita
bisa menciptakan surga di dunia ini. Ndak perlu nunggu mati…”

Saya terdiam, bertasbih dalam hati.
Berapa banyak orang yang shaleh pribadi dan juga shaleh secara
sosial? Berapa banyak orang kaya yang juga banyak beramal? Berapa
banyak muslim yang sadar dalam harta yang diperolehnya terdapat hak
saudaranya dan wajib ia zakati? Kalau pada zaman Khalifah Umar bin
Abdul Aziz para amil zakat sampai kebingungan mencari mustahik, ada
berapa juta orang yang hidup dari hasil mengemis di zaman ini?

Bulan di balik jendela masih bersinar, saya kembali berkhayal.
Seandainya semua orang di dunia punya filosofi hidup seperti Pak
Nadi, niscaya nggak akan ada perang. Nggak akan ada pembantaian
yang mengatasnamakan apapun. Alangkah indahnya dunia ketika semua
orang yang hidup di dalamnya hidup untuk berbuat baik dan bermanfaat
bagi sesamannya. Dan mungkin kita bisa benar-benar bernyanyi bersama
Steven and the Coconut Trees. Welcome to our paradise. Where the
skies are blue. And the love is never ending…

Yeah, buat orang-orang skeptis di luar
sana, saya tau masalah kita bukan cuma itu. Ada krisis moneter dan
penyusutan cadangan sumber energi. Ada hukum-hukum dan nilai moral
tertentu yang harus kita patuhi. Ada pemanasan global yang konon bisa
membuat bumi beserta isinya ini tinggal sejarah yang tak mungkin
dikenang siapapun karena penghuninya sudah passed away semua (hey,
mungkin saat itu adalah kiamat, right? :D). Whatever, just let me
enjoy my little romance and hope now, ok?