Surga Dunia
Malam itu, seperti biasanya, saya bersiap
tidur dengan iringan Chopin ditambah bonus pemandangan bulan purnama
dari balik jendela. Beautiful indeed. Salah satu ‘pemandangan
surga’ yang bisa manusia dapatkan di bumi ini. Hmm, surga. Saya
teringat percakapan dengan sopir mobil jenazah RZI Malang, Pak
Misnadi paginya. Beliau bilang, “Mbak Yo, kebanyakan orang itu
sudah puas dengan sholat, puasa, dan menjauhi maksiat. Seolah-olah
mereka nanti pasti diganjar surga di akhirat. Tapi kalo saya Mbak,
kok ya mau dapet surga aja nunggu mati tho? Kenapa ndak menciptakan
surga waktu masih hidup ini?”
Saya bengong sejenak, “Maksud Pak
Nadi?”
Pak Nadi tersenyum dan membalas, “Ya
maksudnya ndak keluar dari ajaran Islam, Mbak. Maksud saya, setiap
hari selama kita masih hidup ini, kenapa ndak berusaha membuat orang
lain senang? Ketika saya melakukan sesuatu yang menyenangkan orang
lain, itu surga dunia. Jadi setiap hari selama kita masih hidup kita
bisa menciptakan surga di dunia ini. Ndak perlu nunggu mati…”
Saya terdiam, bertasbih dalam hati.
Berapa banyak orang yang shaleh pribadi dan juga shaleh secara
sosial? Berapa banyak orang kaya yang juga banyak beramal? Berapa
banyak muslim yang sadar dalam harta yang diperolehnya terdapat hak
saudaranya dan wajib ia zakati? Kalau pada zaman Khalifah Umar bin
Abdul Aziz para amil zakat sampai kebingungan mencari mustahik, ada
berapa juta orang yang hidup dari hasil mengemis di zaman ini?
Bulan di balik jendela masih bersinar, saya kembali berkhayal.
Seandainya semua orang di dunia punya filosofi hidup seperti Pak
Nadi, niscaya nggak akan ada perang. Nggak akan ada pembantaian
yang mengatasnamakan apapun. Alangkah indahnya dunia ketika semua
orang yang hidup di dalamnya hidup untuk berbuat baik dan bermanfaat
bagi sesamannya. Dan mungkin kita bisa benar-benar bernyanyi bersama
Steven and the Coconut Trees. Welcome to our paradise. Where the
skies are blue. And the love is never ending…
Yeah, buat orang-orang skeptis di luar
sana, saya tau masalah kita bukan cuma itu. Ada krisis moneter dan
penyusutan cadangan sumber energi. Ada hukum-hukum dan nilai moral
tertentu yang harus kita patuhi. Ada pemanasan global yang konon bisa
membuat bumi beserta isinya ini tinggal sejarah yang tak mungkin
dikenang siapapun karena penghuninya sudah passed away semua (hey,
mungkin saat itu adalah kiamat, right? :D). Whatever, just let me
enjoy my little romance and hope now, ok?
Ari Said:
on July 28, 2007 at 10:09 am
Keren! ^(^-^)^