Archive for January, 2008

Pak Harto Wafat: Sebuah Sirkus

Setelah melalui
penderitaan dan kesakitan yang pasti berat, Pak Harto wafat. Indonesia
berkabung. Atau setidaknya yang tampak dan yang diberitakan seperti itu.
Pemerintah menetapkan tujuh hari setelah wafatnya Pak Harto sebagai hari
berkabung nasional. Orang-orang mengiringi jenazah Pak Harto sejak dari RSPP
sampai ke Cendana kemudian ke Astana Giri Bangun.
Aktifitas ekonomi di beberapa tempat malah sempat
terhenti. Toko-toko tutup. Masyarakat memilih tinggal di rumah untuk menyaksikan
hidup Pak Harto dan jasa-jasanya (?) di semua stasiun televisi.
Seorang teman gerah. Ia menggerutu karena sinetron
favoritnya urung tayang, digantikan acara entah apa tentang Pak Harto. Esoknya
ia masih harus menahan geram: serial India favoritnya juga tidak tayang. Lagi2 digantikan "Pak Harto".

Pak Harto yang hebat, Pak Harto yang berjasa. Televisi menayangkan suasana  Indonesia yang ditinggal "salah satu putra besarnya". Di Padang, Makasar, bahkan pelosok jawa, orang-orang menangis, berduka, berdoa, bahkan menciptakan puisi untuk jasa-jasa Pak Harto yang tidak ada bandingnya. Seorang Nenek fauziah bahkan tidak berhenti menggumamkan Yasin untuk Pak Harto. Sang Nenek pun berharap, semoga presiden Indonesia lainnya bisa seperti Pak Harto. Lain lagi Ketua Fraksi Golkar yang akan mengusulkan supaya Pak Harto bisa menjadi Pahlawan Nasional. Dan saya pun tertawa pagi-pagi.

Saya seperti menonton sirkus. Ada keramaian. Di mana-mana orang berkerumun. Pengantar, pelayat, atau sekedar ingin tahu. Sejenak lupa harga kedelai masih meroket dan korban lumpur lapindo masih tinggal di pengungsian. Tapi saya belajar banyak pelajaran moral. Kalau ingin dosa2mu, yang paling berat sekalipun, diampuni manusia, banyak2lah menanam budi di mana2. dan kalau ingin terbebas dari pengadilan dan penjara, mati saja.

MACARIN ANJING

Didepan laptop, Dwi bertanya pada saya (dia lagi ngerjain soal kuis Who Wants To Be A Millionaire bo’ong2an): "Simbol majalah Playboy apa Yo?"

"Kelinci, kan?" jawab saya

"Bukan kelinci, tapi anjing" sambar Dwi lagi.

Saya sudah siap2 protes, "Kok anjing sih Wi, kelici dong yang bener mah"

"Hee… Playboy mah luarnya kelinci, tapi dalemnya di mana2 sama: ANJING," jawab Dwi ditingkahi cengiran masam saya yang dalam hati membenarkan omongan Dwi itu.

Saya jadi ingat novel teenlit yg saya baca beberapa waktu lalu. Judulnya MACARIN ANJING. Wew, cukup bombastis kan judulnya. Siapa sih yg mau2 nya jadiin anjing sebagai pacar? Kayak kekurangan manusia aja. Setelah baca novel itu sampe tamat, barulah saya sadar bahwa yg dimaksud dengan ANJING dalam novel itu adalah LAKI-LAKI yang disifatkan dan malah dinilai lebih rendah dari ANJING!

Novel ini sendiri bercerita tentang cewek bernama Libby yang pernah diselingkuhin pacarnya *yg cowok itu* sampe2 dia nemuin artikel di net yang judulnya "15 Alasan Kenapa Anjing Lebih Baik dari Cowok" dan semakin membuat Libby eneg sama cowok. Libby sampe bilang gini: "Kenapa cewek mesti dipasangin sama cowok? Kenapa gak dipasangin sama sesuatu yg lebih mudah diatur aja. Badak, misalnya" *Huahahaha*. Libby setuju banget sama artikel itu karena yah, kalo dibandingin, cowok sama anjing, anjing itu punya banyak sifat dasar yang baik seperti setia en nurut sama majikannya. Nggak kayak cowok yang (kebanyakan) brengsek, tukang selingkuh, en gak berani komitmen.

Nah, pendapat Libby ini juga didukung sama banyak hal sih. Pernah nonton PLAYBOY KABEL dong??? Ini salah satu acara yg bisa bikin saya ketawa ngeliat cowok2 yang tadinya mau ngambil kesempatan tapi malah ditampar ato di jogrokin ke kolam sama ceweknya. Huehehehe…. Sebenernya masih mau saya terusin nih, tapi jari saya geli en gak bisa ngetik banyak2 lagi. Kapan2 deh saya post 15 Alasan Kenapa Anjing Lebih BAik dari Cowok. Kekekeke…

*dalam hati bedoa: daripada saia ketemu laki2 kayak anjing di dunia, lebih baik saia nikahnya entar aja kalo udah di surga. Moga2 masup surga. Amiiin…..*

Catatan Awal Tahun

Kadang aku merasa
aneh. Sampai2 rasanya menakutkan. Aku sering tertawa sampai tertidur seolah
tawa itu lagu pengantar tidurku. Kadang aku bertindak nekat, cuma untuk merasakan sensasi
bahayanya. Rasanya pengen teriak sekeras-kerasnya cuma supaya yakin bahwa aku benar2
hidup.

 

Sudah cukupkah
hidup ini? Atau sudah waktunyakah aku mati? Kadang aku ingin ada seseorang yang
menyelamatkan hidupku dan membuatnya jadi luar biasa.
Tapi siapa yang bisa menyelamatkan hidupmu selain
Tuhan dan dirimu sendiri?

 

Mungkin aku hanya
belum sadar bahwa hidup ini adalah turbulensi indah penuh kemewahan yang abadi
hingga ia berakhir nantinya. Dan di dalam turbulensi ini, aku hanya ingin
menjadi apapun ketimbang sekedar biasa2 saja…

 

 

*terjemahan bebas plus dari ”Anything but Ordinary”-nya
Avril Lavigne*